Metode Drill

  1. Pengertian Metode Drill

Sebelum mendefinisikan tentang metode drill terlebih dahulu mengetahui tentang metode mengajar itu sendiri. Metode mengajar adalah cara guru memberikan pelajaran dan cara murid menerima pelajaran pada waktu pelajaran berlangsung, baik dalam bentuk memberitahukan atau membangkitkan.

Oleh karena itu peranan metode pengajaran ialah sebagai alat untuk menciptakan proses belajar mengajar yang kondusif. Dengan metode ini diharapkan tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa sehubungan dengan mengajar guru, dengan kata lain terciptalah interaksi edukatif antara guru dengan siswa. Dalam interaksi ini guru berperan sebagai penggerak atau pembimbing, sedangkan siswa berperan sebagai penerima atau yang dibimbing. Proses interaksi ini akan berjalan dengan baik jika siswa lebih aktif di bandingkan dengan gurunya. Oleh karenanya metode mengajar yang baik adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa dan sesuai dengan kondisi pembelajaran.

Salah satu usaha yang tidak boleh ditinggalkan oleh guru adalah bagaimana guru memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang mempengaruhi dalam proses belajar mengajar. Kerangka berpikir yang demikian bukanlah suatu hal yang aneh tetapi nyata dan memang betul-betul dipikirkan oleh guru.

Dari definisi metode mengajar, maka metode drill adalah suatu cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan, agar siswa memiliki ketangkasan atau ketrampilan yang lebih tinggi dari apa yang dipelajari.

Dalam buku Nana Sudjana, metode drill adalah satu kegiatan melakukan hal yang sama, berulang-ulang secara sungguh-sungguh dengan tujuan untuk memperkuat suatu asosiasi atau menyempurnakan suatu ketrampilan agar menjadi bersifat permanen. Ciri yang khas dari metode ini adalah kegiatan berupa pengulangan yang berkali-kali dari suatu hal yang sama.

Dengan demikian terbentuklah pengetahuan-siap atau ketrampilan-siap yang setiap saat siap untuk di pergunakan oleh yang bersangkutan.

  1. Macam-Macam Metode Drill

Bentuk- bentuk Metode Drill dapat direalisasikan dalam berbagai bentuk teknik, yaitu sebagai berikut :

  1. Teknik Inquiry (kerja kelompok)

Teknik ini dilakukan dengan cara mengajar sekelompok anak didik untuk bekerja sama dan memecahakan masalah dengan cara mengerjakan tugas yang diberikan.

  1. Teknik Discovery (penemuan)

Dilakukan dengan melibatkan anak didik dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, diskusi.

  1. Teknik Micro Teaching

Digunakan untuk mempersiapkan diri anak didik sebagai calon guru untuk menghadapi pekerjaan mengajar di depan kelas dengan memperoleh nilai tambah atau pengetahuan, kecakapan dan sikap sebagai guru.

  1. Teknik Modul Belajar

Digunakan dengan cara mengajar anak didik melalui paket belajar berdasarkan performan (kompetensi).

  1. Teknik Belajar Mandiri

Dilakukan dengan cara menyuruh anak didik agar belajar sendiri, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

  1. Tujuan Penggunaan Metode Drill

Metode Drill biasanya digunakan untuk tujuan agar siswa :

Memiliki kemampuan motoris/gerak, seperti menghafalkan kata-kata, menulis, mempergunakan alat.

Mengembangkan kecakapan intelek, seperti mengalikan, membagi, menjumlahkan.

Memiliki kemampuan menghubungkan antara sesuatu keadaan dengan yang lain.

  1. Syarat-Syarat Dalam Metode Drill

Masa latihan harus menarik dan menyenangkan.

Agar hasil latihan memuaskan, minat instrinsik diperlukan.

Tiap-tiap langkah kemajuan yang dicapai harus jelas.

Hasil latihan terbaik yang sedikit menggunakan emosi

Latihan –latihan hanyalah untuk ketrampilan tindakan yang bersifat otomatik.

Latihan diberikan dengan memperhitungkan kemampuan/ daya tahan murid, baik segi jiwa maupun jasmani.

Adanya pengerahan dan koreksi dari guru yang melatih sehingga murid tidak perlu mengulang suatu respons yang salah.

Latihan diberikan secara sistematis.

Latihan lebih baik diberikan kepada perorangan karena memudahkan pengarahan dan koreksi.

Latihan-latihan harus diberikan terpisah menurut bidang ilmunya.

  1. Prinsip Dan Petunjuk Menggunakan Metode Drill

Siswa harus diberi pengertian yang mendalam sebelum diadakan latihan tertentu.

Latihan untuk pertama kalinya hendaknya bersikap diagnostik:

Pada taraf permulaan jangan diharapkan reproduksi yang sempurna.

Dalam percobaan kembali harus diteliti kesulitan yang timbul.

Respon yang benar harus diperkuat.

Baru kemudian diadakan variasi, perkembangan  arti dan kontrol

Masa latihan secara relativ singkat, tetapi harus sering dilakukan.

Pada waktu latihan harus dilakukan proses essensial.

Di dalam latihan yang pertama-tama adalah ketepatan, kecepatan dan pada akhirnya kedua-duanya harus dapat tercapai sebagai kesatuan.

Latihan harus memiliki arti dalam rangka tingkah laku yang lebih luas.

Sebelum melaksanakan, pelajar perlu mengetahui terlebih dahulu arti latihan itu.

Ia perlu menyadari bahwa latihan-latihan itu berguna untuk kehidupan selanjutnya.

Ia perlu mempunyai sikap bahwa latihan-latihan itu diperlukan untuk melengkapi belajar.

  1. Keuntungan Atau Kebaikan Metode Drill

Bahan pelajaran yang diberikan dalam suasana yang sungguh-sungguh akan lebih kokoh tertanam dalam daya ingatan murid, karena seluruh pikiran, perasaan, kemauan dikonsentrasikan pada pelajaran yang dilatihkan.

Anak didik akan dapat mempergunakan daya fikirannya dengan bertambah baik, karena dengan pengajaran yang baik maka anak didik akan menjadi lebih teratur, teliti dan mendorong daya ingatnya.

Adanya pengawasan, bimbingan dan koreksi yang segera serta langsung dari guru, memungkinkan murid untuk melakukan perbaikan kesalahan saat itu juga. Hal ini dapat menghemat waktu belajar disamping itu juga murid langsung mengetahui prestasinya.

  1. Kelemahan Metode Drill dan Petunjuk Untuk Mengurangi Kelemahan-Kelemahan Tersebut
  2. Kelemahan Metode Drill

Latihan Yang dilakukan di bawah pengawasan yang ketat dan suasana serius mudah sekali menimbulkan kebosanan.

Tekanan yang lebih berat, yang diberikan setelah murid merasa bosan atau jengkel tidak akan menambah gairah belajar dan menimbulkan keadaan psikis berupa mogok belajar/latihan.

Latihan yang terlampau berat dapat menimbulkan perasaan benci dalam diri murid, baik terhadap pelajaran maupun terhadap guru.

Latihan yang selalu diberikan di bawah  bimbingan guru, perintah guru dapat melemahkan inisiatif maupun kreatifitas siswa.

Karena tujuan latihan adalah untuk mengkokohkan asosiasi tertentu, maka murid akan merasa asing terhadap semua struktur-struktur baru dan menimbulkan perasan tidak berdaya.

  1. Petunjuk Untuk Mengurangi Kelemahan-Kelemahan Di Atas

Janganlah seorang guru menuntut dari murid suatu respons yang sempurna, reaksi yang tepat.

Jika terdapat kesulitan pada murid saat merespon, mereaksi, hendaknya guru segera meneliti sebab-sebab yang menimbulkan kesulitan tersebut.

Berikanlah segera penjelasan-penjelasan, baik bagi reaksi atau respon yang betul maupun yang salah. Hal ini perlu dilakukan agar murid dapat mengevaluasi kemajuan dari latihannya.

Usahakan murid memiliki ketepatan merespon kemudian kecepatan merespon.

Istilah-istilah baik berupa kata-kata maupun kalimat-kalimat yang digunakan dalam latihan hendaknya dimengerti oleh murid. Metode Drill

Metode Drill Menurut para ahli

Menurut (Syaiful Sagala, 2009:21) “Metode drill adalah metode latihan, atau metodetraining yang merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan”

(Abdul Rahman Shaleh, 2006: 203).” Ciri khas dari metode ini (metode drill) adalah kegiatan yang berupa pengulangan yang berkali-kali supaya asosiasi stimulus dan respons menjadi sangat kuat dan tidak mudah untuk dilupakan. Dengan demikian terbentuklah sebuah keterampilan (pengetahuan) yang setiap saat siap untuk dipergunakan oleh yang bersangkutan”

Dalam buku Nana Sudjana, metode drill adalah “satu kegiatan melakukan hal yang sama, berulang-ulang secara sungguh-sungguh dengan tujuan untuk memperkuat suatu asosiasi atau menyempurnakan suatu ketrampilan agar menjadi bersifat permanen”

Dalam hal ini Sugiyanto (1996: 72) menyatakan, “ dalam metode drill siswa melakukan gerakan-gerakan sesuai dengan apa yang diinstruksikan guru dan melakukan secara berulang-ulang. Pengulangan gerakan ini dimaksudkan agar terjadi otomasisi gerakan. Oleh karena itu dalam pendekatan tradisional perlu disusun tata urutan pembelajaran yang baik agar siswa terlibat aktif, sehingga akan diperoleh hasil belajar yang optimal. Lebih lanjut Sugiyanto (1996: 72) memberikan beberapa saran yang perlu dipertimbangkan apabila metode drill yang digunakan yaitu:

  1. Drill digunakan sampai gerakan yang benar bisa dilakukan secara otomatis atau menjadi terbiasa, serta menekankan dalam keadaan tertentu gerakan itu harus dilakukan.
  2. Selama pelaksanaan drill perlu selalu mengoreksi agar perhatian tetap tertuju pada kebenaran gerak.
  3. Pelaksaan drill disesuaikan dengan bagian-bagian dari situasi drill kesituasi permainan olahraga yang sebenarnya hal ini bisa menimbulkan daya tarik dalam latihan.
  4. Perlu dilakukan latihan peralihan dari situasi drill kesituasi permainan.
  5. Suasana kompetetif perlu diciptakan dalam pelaksanaan drill, tetapi tetap ada control geraknya.

Roestiyah N K, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Bina Aksara, 1985), hlm. 125.

Suatu teknik yang dapat diartikan sebagai suatu cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan, siswa memiliki ketangkasan atau ketrampilan yang lebih tinggi dari apa yang telah dipelajari.

Pasaribu, U dan B. Simanjuntak Didaktik dan Metodik, (Bandung: Tarsito, 1986), hlm. 25.
Suatu metode dalam pendidikan dan pengajaran dengan jalan melatih anak-anak terhadap bahan pelajaran yang sudah di berikan.

Roestiyah N K, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta : Bina Aksara, 1985), hlm. 130.
Suatu kegiatan dalam melakukan hal yang sama secara berulang-ulang dan sungguh-sungguh dengan tujuan

untuk memperkuat suatu asosiasi atau menyempurnakan suatu ketrampilan supaya menjadi permanen.

Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Study Kompetensi Guru, (Bandung: PT. Rosda Karya, 2006), hlm. 133.

Suatu rencana menyeluruh tentang penyajian materi secara sistematis dan berdasarkan pendekatan yang ditentukan dengan cara latihan agar pengetahuan dan kecakapan tertentu dapat dimiliki dan dikuasai sepenuhnya oleh peserta didik.

Daftar Pustaka

Abu, Ahmad. 1986. Metode Khusus Pendidikan Agama. Bandung: CV Amrico

Nana, Sudjana. 1991. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar.  Bandung: Sinar Baru

Muhaimin, Abdul Mujib. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: Trigenda Karya

Roestiyah, NK. 1989. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara

Winarno, Surakhmad. 1994. Pengantar Interaksi Belajar Mengajar.  Bandung

Penelitian

Penelitian merupakan salah satu penunjang dalam perkembangan ilmu pengetahuan, tanpa adanya penelitian ilmu pengetahuan tidak akan bertambah maju. Ada tiga syarat penting yang harus diperhatikan dalam melakukan penelitian, yaitu:

  1. Sistematis, artinya dilaksanakan menurut pola tertentu dari yang paling sederhana sampai kompleks hingga tercapai tujuan secara efektif dan efisien.
  2. Berencana, artinya dilaksanakan dengan adanya unsur kesengajaan dan sebelumnya sudah dipikirkan langkah-langkah pelaksanaannya.
  3. Mengikuti konsep ilmiah, artinya mulai awal sampai akhir kegiatan penelitian mengikuti cara-cara yang sudah ditentukan, yaitu prinsip yang digunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan.

Macam-macam Metode Penelitian

Dalam melakukan penelitian, orang dapat menggunakan berbagai macam metode. Keputusan mengenai metode yang akan dipakai akan tergantung kepada tujuan, pendekatan, bidang ilmu, tempat, sifat masalah yang digarap dan alternatif yang mungkin digunakan.

  1. Penelitian Ditinjau dari Tujuan
  2. Penelitian Eksploratif

Digunakan apabila peneliti ingin menggali secara luas tentang sebab akibat atau hal-hal yang mempengaruhi terjadinya sesuatu.

  1. Penelitian Developmental

Dilakukan percobaan dan penyempurnaan.

  1. Penelitian Verifikatif

Bertujuan untuk mengecek kebenaran hasil penelitian lain.

  1. Penelitian Ditinjau dari Pendekatan
  2. Pendekatan Longitudinal

Pada metode ini, sample subjek yang sama dipelajari dalam waktu tertentu. Metode ini memungkinkan adanya penyelidikan intensif terhadap individu karena peneliti menyimpulkan data tentang subjek yang sama pada berbagai tingkatan. Kelemahan metode ini, antara lain:

1)  Menuntut adanya komitmen dari individu atau lembaga yang bersedia menyediakan waktu, uang dan sumber daya lainnya selama beberapa tahun.

2)  Jika dampel yang dipilih jelek, tak ada yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya.

3)  Tidak dapat menambah variabel baru.

4)  Sulitnya mempertahankan kerjasama subjek dalam waktu yang lama.

  1. PendekatanCross-sctional

Metode ini meliputi lebih banyak subjek, tetapi mencandra faktor-faktor pertumbuhan yang lebih sedikit. Kelemahan dari metode ini adalah:

1)  Perbedaan yang ada pada sampel-sampel  dapat membuat penyidikan ini sangat luas.

2)  Kemungkinan adanya variabel luar yang telah menimbulkan perbedaan diantara populasi-populasi yang ditarik sampelnya.

  1. Penelitian Ditinjau dari Bidang Ilmu

Ragam penelitian ditinjau dari bidangnya adalah penelitian terhadap pendidikan, keteknikan, ruang angkasa, pertanian, perbankan, kedokteran, keolahragaan dan sebagainya.

  1. Penelitian Ditinjau dari Tempatnya
  2. Penelitian Laboratorium
  3. Penelitian Perpustakaan
  4. Penelitian Lapangan
  5. Penelitian Ditinjau dari Sifat Masalahnya

Berdasarkan sifat-sifat masalahnya, metode penelitian dapat digolongkan menjadi sembilan, dapat dilihat pada tabel berikut:

Metode Penelitian Tujuan Ciri-ciri Langkah-langkah

Pokok

Penelitian Historis Membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasi serta mensistensikan bukti-bukti untuk menegakkan fakta.
  • Lebih  tergantung pada data yang diobservasi orang lain.
  • Harus tertib, ketat, sistematis dan tuntas.
  • Menggunakan data primer dan sekunder.
  • Dilakukan kritik eksternal dan internal untuk menentukan bobot data.
  • Mirip penelaahan kepustakaan
  • Definisikan masalah
  • Rumuskan tujuan penelitian
  • Kumpulkan data
  • Evaluasi data
  • Tuliskan laporan
Penelitian Deskriptif Membuat pencandraan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi.
  • Tidak perlu mencari hubungan, menguji hipotesis dan membuat ramalan
  • Mencari informasi tentang gejala yang ada
  • Definisikan dengan jelas tujuan yang akan dicapai
  • Rencanakan cara pendekatannya
  • Kumpulkan data
  • Laporan
Penelitian Perkembangan Untuk menyelidiki pola dan perurutan pertumbuhan dan atau perubahan sebagai fungsi waktu
  • Memusatkan pada studi mengenai variabel-variabeldan perkembangannya selama beberapa bulan atau tahun
  • Definisikan masalahnya
  • Lakukan penelaahan kepustakaan
  • Rancangan cara pendekatan
  • Kumpulkan data
  • Evaluasi data yang terkumpul
  • Susun laporan mengenai evaluasi itu
Penelitian Kasus dan Penelitian Lapangan Untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan sesuatu unit sosial.
  • Penelitian mendalam mengenai unit sosial yang hasilnya merupakan gambaran lengkap tentang unit tersebut
  • Meneliti jumlah unit yang kecil tetapi mengenai variabel-variabel dan kondisi yang besar jumlahnya
  • Rumuskan tujuan yang akan dicapai
  • Rancangan cara pendekatannya
  • Kumpulkan data
  • Organisasikan data dan informasi menjadi unit studi yang koheren
  • Susun laporan
Penelitian korelasional Untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi
  • Dilakukan untuk variabel yang diteliti rumit
  • Memungkinkan pengukuran beberapa variabel dan saling hubungannya secara serentak
  • Apa yang diperoleh adalah taraf atau tinggi rendahnya hubungan atau tidak adanya hubungan.
  • Definisikan masalah
  • Lakukan penelaahan kepustakaan
  • Rancang cara pendekatannya
  • Kumpulkan data
  • Analisis data
  • Tuliskan laporannya
Penelitian Kausal-Komparatif Untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat dengan cara berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu
  • Bersifat ex post facto, artinya data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dipersoalkan berlangsung
  • Definisikan masalah
  • Lakukan penelaahan
kepustakaan

  • Rumuskan hipotesis
  • Rumuskan asumsi yang mendasari hipotesis
  • Rancang cara pendekatannya
  • Validasikan teknik untuk mengumpulkan data dan interpretasikan dalam cara yang jelas dan cermat
  • Kumpulkan dan analisis data
  • Susun laporannya
Penelitian Eksperimental-Sungguhan Untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab akibat dengan cara mengenalkan kepada satu atau lebih kelompok eksperimental satu atau lebih kondisi perlakuan dan memperbandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompokn kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan
  • Memusatkan usaha pada pengontrolan varians
  • Tujuannya untuk internal dan eksternal validity
  • Lakukan survei kepustakaan
  • Identifikasi dan definisi masalah
  • Rumuskan hipotesis
  • Definisikan pengertian dasar dan variabel utama
  • Susun rencana eksperimen
  • Laksanakan eksprimen
  • Atur data kasar
  • Terapkan test signifikasi
  • Buat interpretasi mengenai hasil testing dan susun laporannya.
Penelitian Eksperimental Semu Untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan atau memanipulasi semua variabel yang relevan.
  • Secara khas mengenai keadaan praktis
  • Mempunyai perbedaan yang kecil dengan penelitian eksperimen sungguhan
  • Sama dengan penelitian eksperimen sungguhan
Penelitian Tindakan Mengembangkan keterampilan-keterampilan baru atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung didunia kerja
  • Praktis dan relevan untuk situasi aktual dalam dunia kerja
  • Menyediakan rangka kerja yang teratur untuk pemecahan masalah dan perkembangan-perkembangan baru
  • Fleksibel dan adaptif
  • Definisikan masalah
  • Lakukan penelaahan kepustakaan
  • Rumusan hipotesis atau strategi pendekatan
  • Aturlah research setting
  • Tentukan kriteria evaluasi
  • Analisis data yang terkumpul
  • Tuliskan laporan

Read more: http://www.4skripsi.com/metodologi-penelitian/macam-macam-metode-penelitian.html#ixzz28RYcS9qg

Aplikasi raport SD K’13

Ini adalah aplikasi raport untuk pengisian nilai disarankan mengisi data (klik input data) Bapak/Ibu guru dapat mendownloadnya secara geratis dalam format excel dengan cara klik —>  Aplikasi Raport SD K’13 Kelas 5a

dan disamping sebelah kanan adalah contoh buku raportnya k’13 klik aja —> bukuraporsdtanpanilaiisian-26092013-131127042636-phpapp01

semoga dapat membantu :)

ya kalau membantu doain adminnya aja supaya mudah mendapatkan jodoh, diberi kesahatan dan keselamatan. :)

Diabetes Pada Anak / Remaja

Sekarang mungkin Anda tenang-tenang saja, karena selama ini hasil tes gula darah sewaktu anda masih jauh dibawah 200 mg/dl. Sehingga anda kurang memperhatikan gaya hidup dan pola makan. Padahal gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat dapat menyebabkan seseorang terkena diabetes.

Diabetes melitus yang dalam istilah awam sering disebut “kencing manis” adalah suatu kelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan adanya hiperglikemia (meningkatnya kadar glukosa dalam darah) akibat gangguan pada sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya.   Apa saja jenis diabetes? Berdasarkan etiologinya, diabetes melitus dibagi menjadi 4 tipe :

- Diabetes tipe 1: Disebabkan karena sel-sel pankreas yang memproduksi insulin dirusak oleh sistem pertahanan  tubuh kita sendiri (autoimun). Karena sel-sel tersebut rusak, hormon insulin tidak dapat diproduksi lagi. Diabetes tipe 1 ini biasa terjadi pada usia muda. – Diabetes tipe 2: 90-95% dari keseluruhan penderita diabetes. Diabetes tipe ini disebabkan karena insulin yang diproduksi tidak dapat bekerja dengan baik. Penyebabnya bisa karena insulin yang diproduksi tidak cukup atau sel tubuh kita tidak sensitif lagi terhadap insulin. Penyakit ini biasa didiagnosa pada usia 40 tahun atau lebih. – Diabetes tipe lain: Disebabkan karena kelainan hormon, pemakaian obat-obatan, infeksi virus,  antibodi, dan kelainan genetik . – Diabetes pada masa kehamilan atau gestasional diabetes.   Seberapa banyak orang yang menderita? Sebagai informasi, Indonesia merupakan negara ke-4 dengan jumlah penderita diabetes melitus terbesar di dunia. Berdasarkan laporan International Diabetes Federation, jumlah pasien diabetes di dunia akan meningkat dari 240 juta jiwa pada tahun 2007 menjadi sekitar 380 juta jiwa pada tahun 2025. Menurut CDC, setiap tahunnya terdapat lebih dari 13.000 anak muda yang didiagnosa diabetes tipe 1.

Dan diabetes tipe 2 yang biasa ditemukan saat usia dewasa (> 40 tahun), insidennya mulai meningkat pada usia anak dan remaja. Menurut laporan kasus di Amerika terdapat 8 – 46% kasus diabetes tipe 2 dari seluruh kasus baru diabetes yang dirujuk ke pusat perawatan anak. Mengapa diabetes semakin banyak menyerang usia muda? Mengapa insiden diabetes tipe 2 meningkat pada anak muda? Hal ini terutama disebabkan oleh perubahan gaya hidup yaitu kurangnya aktivitas dan obesitas. Obesitas inilah yang nantinya menyebabkan sel-sel di tubuh kita menjadi tidak sensitif lagi terhadap insulin dan akhirnya dapat menyebabkan diabetes.

 

Selain itu riwayat diabetes tipe 2 pada keluarga, pubertas, perempuan, dan pertumbuhan janin yang terhambat juga merupakan faktor risiko yang meningkatkan insiden terjadinya diabetes tipe 2. Biasanya diabetes tipe 2 didiagnosa pada umur 10-19 tahun.   Gejala Klinis: Acanthosis nigrican  Untuk mendeteksi seorang anak dengan diabetes tipe 2 sangat sulit karena umumnya tidak bergejala atau gejalanya ringan. Sehingga penyakit ini tidak terdiagnosa untuk waktu yang lama.

Adapun gejala yang muncul adalah mudah lapar, mudah haus, dan sering buang air kecil. Umumnya 60-90% dari anak muda yang terserang diabetes tipe 2, menderita kelainan kulit yang disebut “acanthosis nigricans“, yaitu penebalan dan hiperpigmentasi dari kulit di daerah leher dan lipatan-lipatan. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya sensitifitas sel terhadap insulin, sehingga insulin tidak dapat dipakai dan beredar bebas di dalam darah. Insulin yang tinggi didalam darah ini merangsang aktivitas sel-sel pada kulit. Kelainan kulit ini bisa dijadikan tanda/marker untuk anak muda yang beresiko menderita diabetes tipe 2.   Kapan diperiksa laboratorium? Sebagian dari kita mungkin bertanya-tanya, kapankah kita perlu melakukan pemeriksaan laboratorium? American Diabetes Association dan American Academy of Pediatrics merekomendasikan untuk memeriksa  anak >10 tahun atau pubertas dengan indeks massa tubuh melebihi persentil ke-85, mempunyai riwayat keluarga yang menderita diabetes, mempunyai gejala gangguan sensitivitas insulin yaitu acanthosis nigrican, sindrom polikistik ovarium, hipertensi, dan dislipidemia. Acanthosis nigricans   Kriteria diagnosis Berdasarkan Standards of Medical Care in Diabetes 2011, berikut ini adalah kriteria diagnosis untuk diabetes : HbA1c ≥ 6,5% Kadar glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl (puasa didefinisikan tidak adanya ambilan kalori setidaknya selama 8 jam ) Kadar glukosa darah ≥200 mg/dl pada 2 jam sesudah beban glukosa 75 gram pada TTGO (Tes Toleransi Glukosa Oral) Pasien dengan gejala klasik hiperglikemia , kadar glukosa darah sewaktu ≥200 mg/dl   Diabetes dan komplikasinya Jika penyakit ini tidak segera diatasi, dapat muncul berbagai komplikasi seperti stroke, kelainan jantung, kelainan pembuluh darah dan saraf di kaki serta kelainan pada ginjal. Oleh karena itu sebaiknya jangan sampai anda terkena penyakit ini. Terutama bagi anak-anak muda dengan faktor risiko seperti yang dijelaskan diatas, mulailah ubah gaya hidup anda. Mulai coba turunkan berat badan pada orang dengan berat badan berlebih, olahraga secara teratur, dan kurangi konsumsi makanan “junk food” serta perbanyak konsumsi makanan dengan gizi seimbang. Namun jika kadar glukosa dalam darah masih tinggi diperlukan terapi farmakologis. Terapi yang digunakan berupa obat hipoglikemi oral ataupun insulin.

contoh lipatan leher yg terindikasi diabetes

Sumber blog ini.

Referensi Juliana C. N. Chan, MBChB, MD,et al. Diabetes in Asia : Epidemiology, Risk Factors, and Pathophysiology.2009. American Medical Association Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus. 2011. American Diabetes Association Bloomgarden, Zachary T. Type 2 Diabetes in the Young. 2004. American Diabetes Association Standards of Medical Care in Diabetes. 2011. American Diabetes Association http://www.cdc.gov/diabetes/projects/cda2.htm

Thanks Pak Dokter
Artikel kesehatan di : http://www.tanyadok.com/kesehatan/hati-hati-diabetes-mulai-menyerang-usia-muda

HUB : http://www.facebook.com/hu53n

Mencegah Terjadinya Computer Vision Syndrome(CVS)

untuk yang sering kerja didepan komputer

Adakah cara untuk mencegah terjadinya computer vision syndrome(CVS)?

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya computer vision syndrome(CVS):

Kurangi cahaya yang menyilaukan. Ubahlah cahaya yang ada di sekitar anda untuk mengurangi pantulan cahaya yang menyilaukan yang datang dari layar komputer. Jika anda bekerja di dekat jendela, aturlah letak layar monitor sedemikan rupa untuk mengurangi pantulan cahaya yang menyilaukan dari pantulan layar monitor. Meredupkan cahaya ruangan dapat membantu mengurangi pantulan cahaya dari layar monitor.
Mengatur ulang meja kerja. Menurut para ahli, posisi optimal layar komputer adalah berada di bawah mata artinya kepala tidak sejajar atau menengadah untuk melihat layar monitor. Jarak antara mata dan layar monitor diusahakan sekitar 40 – 50 cm. Taruhlah materi yang anda ketik tepat di sebelah layar komputer untuk mencegah anda berulang ulang memandang meja untuk melihat materi ketikan.
Istirahatkan mata anda. Pandanglah obyek yang jauh setiap 20 menit selama 20 detik untuk mengistirahatkan mata anda. Berkediplah sesering mungkin agar mata anda tidak kering dan selalu lembab.
Aturlah settingan komputer anda. Aturlah kecerahan layar sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kenyamanan mata anda.
Pilih layar komputer yang sesuai. Gunakan layar komputer yang nyaman di mata dan mampu memberikan kenyamanan pada mata. Layar komputer yang baik adalah yang bebas kedip atau flicker, hal ini tentu saja untuk mengurangi kelelahan pada mata yang berimbas pada terjadinya computer vision syndrome(CVS).
Kunjungilah dokter. Cobalah untuk berkonsultasi ke dokter bila anda merasa ada gangguan pada mata setelah bekerja lama di depan komputer. Anda mungkin saja memerlukan kaca mata untuk mengatasi masalah penglihatan saat bekerja di depan komputer

juri saat seagames

Pengertian Tes dan Pengukuran

kapasitas 20.000 mah. harga Rp 250.000. cod bekasi minat hub : admin blog atau 74b1ee4d

kapasitas 20.000 mah. harga Rp 250.000. cod bekasi minat hub : admin blog atau 74b1ee4d

Suharsiwi Asukunto (1995 : 51) Mengemukakan tentang pengertian Tes, yaitu tes adalah suatu alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan.

Dari hasil tes, biasanya diperoleh tentang atribut atau sifat-sifat yang terdapat pada individu atau objek yang bersangkutan. Data dapat dihimpun melalui tes, angket, observasi, dan wawancara atau bentuk lainnya yang sesuai.

Nurhasan (2000:3) Pengukuran adalah proses pengumpulan data / informasi dari obyek tertentu, dalam proses pengukuran diperlukan suatu alat ukur. Alat ukur itu bisa berupa a) tes dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan, b) tes dalam bentuk psikomotor, c) berupa sklala sikap dan berupa alat ukur yang bersifat standar misalnya ukuran meter, berat, ukuran suhu.

Dengan alat ukur ini kita akan memperoleh data dari suatu objek tertentu, sehingga kita dapat mengungkapkan tentang keadaan objek tersebut secara objektif.

Nurhasan (2000:7) Tes dan pengukuran merupakan bagian yang integral dalam proses penilaian hasil belajar siswa. dengan melalui tes dan pengukuran kita akan memperoleh data yang obyektif dari suatu obyek yang diukur.

Arikunto, Suharsimi (1995), Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara, Jakarta

Nurhasan (2000), Tes dan Pengukuran Pendidikan Olahraga, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, UNISMA, Bekasi.

1510391_666864966668599_1694088887_n

Soal uts / uas PJOK/penjasorkes/penjaskes SD

Mata Pelajaran : PJOK                                            N a m a    : …………………….
K e l a s                 : I ( Satu )                                      N o m o r : …………………….

I. Berilah tanda silang (x) pada huruf a,b, atau c pada jawaban yang benar!
1. Sikap badan saat berdiri adalah ….
a. bungkuk b. miring c. tegak
2. Gerakan memutar tangan melatih otot ….
a. badan b. lengan c. punggung
3. Gerakan menyentuh ujung kaki disebut juga gerakan ….
a. membungkuk b. mengayun c. memutar
4. Saat berjalan pandangan menghadap ….
a. depan b. samping c. belakang
5. Kuku yang panjang harus ….
a. dipotong b. dipelihara c. dibiarkan
6. Gerakan katak melompat diawali sikap …..
a. berdiri b. jongkok c. duduk
7. Sebelum tidur harus ….
a. sikat gigi b. sikat-sikat c. main
8. Sebelum olahraga sebaiknya melakukan ….
a. pendinginan b. pemanasan c. pemulihan
9. Senam dapat membuat badan menjadi ….
a. sehat b. sakit c. lemas
10. Saat bermain bola TIDAK BOLEH ….
a. berteman b. berantem c. kerjasama
11. Untuk melatih kecepatan dapat dilakukan dengan cara….
a. latihan lari b. mengangkat beban c. duduk
12. Olahraga sebaiknya dilakukan di ….
a. kelas b. lapangan c. ruangan
13. Jika terlalu banyak minum es mengakibatkan ….
a. sehat b. sakit perut c. segar
14. Makanan yang sehat adalah makanan yang ….
a. mahal b. manis c. bersih dan matang
15. Jika tangan kotor harus . . . . .
a. asal-asalan b. dibersihkan c. dibiarkan

II. Isilah Titik-Titik di bawah ini dengan jawaban yang singkat dan tepat !

  1. Buanglah sampah ke  . . . .
  2. Menangkap bola menggunakan  . . .
  3. Melompat melatih kekuatan otot . . . .
  4. Sebelum olahraga sebaiknya melakukan . . . . .
  5. Sikap pesawat terbang melatih . . . .
  6.  Menggosok gigi sesudah makan dan  . . . . .
  7. Gerakan membungkuk melatih otot
  8. Olahraga membuat badan menjadi . . . .
  9. Tangan yang kotor akan membawa . . . .
  10.  Apabila kuku tangan sudah panjang harus . . . . .

 

kalau butuh soal kelas yg lainnya hub admin web ini https://www.facebook.com/hu53n

 

HUB : http://www.facebook.com/hu53n

Hakikat Belajar Mengajar

1.Hakikat Belajar Mengajar
Dalam kegiatan belajar mengajar, anak adalah sebagai subjek dan sebagai objek dari kegiatan pengajaran. Karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai jika anak didik berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan anak didik di sini tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik anak yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya anak didik tidak belajar, karena anak didik tidak merasakan perubahan di dalam dirinya. Padahal belajar pada hakikatnya adalah “perubahan” yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar. Walaupun pada kenyataannya tidak semua perubahan termasuk kategori belajar. Misalnya, perubahan fisik, mabuk, gila dan sebagainya.
Kegiatan mengajar bagi seorang guru menghendaki hadirnya sejumlah anak didik. Berbeda dengan belajar. Belajar tidak selamanya memerlukan kehadiran seorang guru. Cukup banyak aktivitas yang dilakukan oleh seseorang di luar dari keterlibatan guru. Belajar di rumah cenderung menyendiri dan terlalu banyak mengaharapkan bantuan dari oang lain. apalagi aktivitas belajar itu berkenaan dengan kegiatan membaca sebuah buku tertentu.
Mengajar pasti merupakan kegiatan yang mutlak memerlukan keterlibatan individu anak didik. Bila tidak ada anak didik atau objek didik, siapa yang diajar. Karena itu belajar dan mengajar merupakan istilah yang sudah baku dan menyatu di dalam konsep pengajaran.
Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar adalah dwitunggal dalam perpisahan raga jiwa bersatu antara guru dan anak didik. Biasanya permasalahan yang guru hadapi ketika berhadapan dengan sejumlah anak didik adalah masalah pengelolaan kelas. Apa, siapa, bagaimana, kapan, dan dimana adalah serentetan pertanyaan yang perlu dijawab dalam hubungannya dengan masalah pengelolaan kelas. Peranan guru itu paling tidak berusaha mengatur suasana kelas yang kondusif bagi kegairahan dan kesenangan belajar anak didik. Setiap kali guru masuk kelas selalu dituntut untuk mengelola kelas hingga berakhirnya kegiatan belajar mengajar. Jadi, masalah pengturan kelas ini tidak akan pernah sepi dari kegiatan guru. Semua kegiatan ini guru lakukan tidak lain demi kepentingan anak didik, demi keberhasilan belajar anak didik.
Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakikatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkah dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengajar adalah proses memberikan bimbingan/bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar (Nana Sudjana, 1991 : 29)
Peranan guru sebagai pembimbing bertolak dari cukup banyaknya anak didik yang bermasalah. Dalam belajar ada anak didik yang cepat mencerna bahan, ada anak didik yang sedang mencerna bahan, dan ada pula anak didik yang lamban mencerna bahan yang diberikan oleh guru. Ketiga tipe belajar anak didik ini menghendaki agar guru mengatur strategi pengajarannya yang sesuai dengan gaya-gaya belajar anak didik.
Menurut Whittaker, dalam Syaiful Bahri Djamarah (2008:13) mengatakan bahwa “Learning is the process by which behavior (in the broader sense) is originated or change through practice or training. Belajar merupakan proses dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.
Berangkat dari teori Hilgard dalam Sanjaya (2011:112) , mengungkapkan bahwa belajar dianggap sebagai proses perubahan perilaku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan. Hilgard mengungkapkan: “Learning is the process by wich an activity originates or changed trough training procedurs (wether in the laboratory or in the natural environment) as distinguished from changes by factors not atributable to training.” Bagi Hilgard, belajar itu adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan di dalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah.
Belajar bukanlah sekedar mengumpulkan pengetahuan. Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku. Aktivitas mental itu terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungan yang disadari.
Menurut Whittaker dalam Syaiful Bahri Djamarah (2008: 12), “belajar dirumuskan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman”.
Menurut Edgar Dafe dalam Dindin Abidin (2007:14) belajar yang baik adalah belajar melalui pengalaman langsung.
Menurut Jhon Dewey, belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung, belajar harus dilakukann siswa secara aktif, baik individual, maupun kelompok, dengan cara memecahkan masalah.
Menurut John Locke, manusia itu merupakan organisme yang pasif. Dengan teori tabularasanya, Locke menganggap bahwa manusia itu seperti kertas putih, hendak ditulisi apa kertas itu sangat tergantung pada orang yang menulisnya. Dari pandangan yang mendasar tentang hakikat manusia itu, memunculkan aliran belajar behavioristik yang meliputi:
1. Mementingkan pengaruh lingkungan
2. Mementingkan bagian-bagian
3. Mengutamakan peranan reaksi
4. Hasil belajar terbentuk secara mekanis
5. Dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu
6. Mementingkan pembentukan kebiasaan
7. Memecahkan masalah dilakukan dengan cara trial and error
Bila hakikat belajar adalah “perubahan”, maka hakikat belajar mengajar adalah proses “pengaturan” yang dilakukan oleh guru. Dapat disimpulkan belajar adalah perubahan tingkah laku yang terjadi pada siswa sebagai proses yang berlangsung dalam jangka waktu lama melalui latihan maupun pengalaman untuk memperoleh kebiasaan, pengetahuan, dan sikap. Sedangkan hakikat belajar mengajar adalah proses mengatur dan mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar anak didik, sehingga dapat memotivasi, membantu, membimbing anak didik melalui proses belajar.

Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosdakarya

Abidin, Dindin dan Acep Mulyadi. Belajar dan Pembelajaran. Bekasi: FKIP UNISMA Bekasi.

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosdakarya

BAB VII IMAGERY TRAINING DAN PENCAPAIAN PRESTASI

Pengertian Imajeri
Imajeri (imagery) merupakan suatu proses di dalam pikiran, dimana pengalaman sensori disimpan di dalam memori dan secara internal diulang dan dialami lagi di dalam pikiran, tanpa perlu menghadirkan stimulus eksternalnya. Artinya, imajeri merupakan suatu pengulangan gerakan, kejadian, situasi atau pengalaman di dalam pikiran, yang dilakukan secara sengaja namun tidak memerlukan adanya suasana, kondisi, peralatan ataupun orang-orang yang sebenarnya ada di dalam pengalaman atau kejadian yang sesungguhnya.
Latihan visualisasi dan imajeri merupakan suatu aktivitas membayangkan serangkaian gerakan di dalam pikiran atau kreasi mental yang dilakukan secara sadar, aktif, terencana dan sistematis. Istilah visualisasi dan imajeri dalam penggunaannya sehari-hari seringkali dicampur aduk atau disamakan, namun sesungguhnya perbedaan antara visualisasi dengan imajeri adalah dalam hal pelibatan panca indera. Pada visualisasi, hanya indera penglihatan yang dominan, sedangkan pada imajeri si olahragawan bukan hanya ‘melihat’ gerakan dirinya namun juga memberfungsikan indera pendengaran, perabaan, penciuman bahkan pengecapan, untuk mengulang atau menciptakan pengalaman di dalam pikirannya. Latihan imajeri dapat juga diterapkan dengan memperagakan gerakan tersebut. Dalam buku ini istilah latihan imajeri lebih sering digunakan.
Manfaat daripada latihan imajeri, antara lain adalah untuk mempelajari atau mengulang gerakan baru; memperbaiki suatu gerakan yang salah atau belum sempurna; latihan simulasi dalam pikiran; dan latihan bagi olahragawan yang sedang menjalani rehabilitasi cedera. Latihan imajeri ini seringkali disamakan dengan latihan visualisasi karena sama-sama melakukan pembayangan gerakan di dalam pikiran. Namun, di dalam imajeri si olahragawan bukan hanya ‘melihat’ gerakan dirinya namun juga memberfungsikan indera pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecapan. Untuk dapat menguasai latihan imajeri, seorang olahragawan harus mahir dulu dalam melakukan latihan relaksasi.
Teknik imajeri merupakan suatu alat bantu yang dapat diterapkan dalam kepelatihan olahraga, konseling, dan terapi. Penerapan imajeri dalam olahraga, dapat difokuskan kepada pengembangan keterampilan (skill development), penguatan atau pembentukan sikap, dan persiapan mental menghadapi kompetisi atau pertandingan.
Ada beberapa teknik latihan visualisasi atau imajeri yang dapat dilakukan di dalam atau di luar lapngan. Waktu yang dibutuhkan juga relatif, bisa sangat singkat hanya dalam hitungan detik sampai menit, dan dapat dilakukan dengan mata tertutup ataupun terbuka, dapat dilakukan di tempat yang sunyi ataupun ramai, bahkan pada saat sedang melakukan pertandingan. Latihan visualisasi yang lebih panjang dan terpandu (guided visualization) biasanya dilakukan dengan menyendiri di ruang yang sunyi, tenteram, nyaman (umumnya di kamar tidur atau ruang khusus), terutama dilakukan pada awal melakukan latihan visualisasi, atau pada saat digunakan untuk meredakan ketegangan.
Hakekat imajeri, pada intinya ada tiga hal, yaitu: (1) mengulang pengalaman bahkan menciptakan pengalaman baru dalam pikiran; (2) mengaktifkan seluruh panca-indera seperti halnya dalam pengalaman nyata; (3) tidak diperlukan adanya stimulus eksternal, artinya tidak perlu harus berada di tempat sesungguhnya dengan mempergunakan alat yang sesungguhnya.
Dalam imajeri yang lebih kompleks, olahragawan dapat melakukan latihan simulasi dengan melibatkan berbagai suasana, situasi, strategi dan segala hal yang mungkin ditemui atau terjadi dalam pertandingan sesungguhnya. Latihan imajeri juga sangat bermanfaat bagi olahragawan yang sedang tidak dapat melakukan latihan fisik karena mengalami cedera. Dapat pula diterapkan jika tidak memungkinkan melakukan suatu latihan fisik atau teknik karena ada gangguan cuaca atau sedang dalam perjalanan.
Untuk menguasai kecakapan imajeri, diperlukan pemahaman yang mendalam dari olahragawan dan bimbingan yang jelas dari pelatih mental, agar tidak terjadi kekeliruan dalam menerapkannya. Pelatih mental atau psikolog olahraga dibutuhkan sebagai pendamping olahragawan saat melakukan latihan imajeri, untuk misalnya memandu latihan imajeri, memilih kata-kata yang tepat untuk digunakan dalam imajeri, dan meningkatkan kemampuan imajeri.

Prinsip Latihan Imajeri

Latihan imajeri jika dilakukan dengan program yang tepat dapat bermanfaat untuk mempersiapkan olahragawan dalam melakukan suatu gerakan, gaya, atau keterampilan baru. Dapat pula diterapkan untuk memperbaiki suatu gerakan, gaya, atau cara bereaksi. Selain itu, kesadaran diri olahragawan, meningkatkan rasa percaya diri, mengontrol emosi, mengurangi rasa sakit, mengatur gugahan semangat (arousal), serta memantapkan strategi persiapan pertandingan.
Untuk melakukan latihan imajeri, perhatikan panduan berikut ini:
– Lakukan latihan imajeri dalam waktu khusus yang teratur; sama seperti latihan fisik.
– Gunakan seluruh indera untuk memperjelas bayangan dalam pikiran.
– Lakukan kontrol terhadap apa yang dibayangkan dalam imajeri.
– Gunakan baik eksternal perspektif (membayangkan dengan melihat diri dari luar diri) maupun internal perspektif (membayangkan dan meresapi saat melakukan gerakan atau pengalaman).
– Permudah latihan imajeri melalui bantuan teknik relaksasi.
– Kembangkan strategi coping melalui imajeri: jangan hanya membayangkan sukses, namun perlu juga membayangkan kegagalan dan bagaimana strategi mengatasi kegagalan tersebut.
– Gunakan imajeri dalam sesi latihan maupun sesaat sebelum pertandingan.
– Kualitas imajeri akan bertambah jika digunakan dalam latihan sehari-hari, sehingga akan membantu olahragawan dalam menghadapi situasi yang menekan di dalam kompetisi.
– Gunakan video-audiotapes untuk meningkatkan keterampilan imajeri.
– Gunakan “triggers” atau tanda pencetus untuk membantu kualitas imajeri: dapat berupa kata-kata kunci atau gerakan yang akan mengembalikan konsentrasi dan semangat olahragawan.
– Lakukan imajeri dengan bantuan gerakan kinestetik yang dinamis: seolah-olah melakukan gerakan yang sebenarnya; seperti yang dilakukan dalam “shadow boxing”.
– Bayangkan kecepatan gerak imajeri dalam tempo yang tepat, sesuai dengan gerakan sebenarnya: jangan dilakukan dengan “slow motion” atau bahkan lebih cepat.
– Gunakan buku catatan imajeri (imagery logs): untuk memantau kemajuan latihan dan sebagai alat untuk monitoring dan evaluasi.

Penyusunan Naskah Imajeri

Instruksi dalam latihan imajeri yang terpandu dapat dilakukan oleh pelatih, psikolog, atau mental trainer yang sudah terlatih untuk itu. Narasi dari panduan latihan imajeri dapat direkam ke dalam kaset atau CD dan diiringi dengan musik yang sayup-sayup sebagai latar. Bahkan, saat ini di pasaran telah tersedia kaset atau CD yang berupa panduan dasar latihan imajeri atau relaksasi dan meditasi secara umum. Dengan latihan imajeri yang terpandu, latihan juga dapat dilakukan secara massal asalkan suara pemandu dapat terdengar dengan jelas, dan setiap olahragawan mendapatkan posisi yang nyaman.
Berhubung sifat latihan imajeri adalah spesifik karena dilakukan dalam pikiran masing-masing individu, maka sebaiknya narasi latihan imajeri juga dibuat spesifik untuk setiap individu. Untuk menuliskan sendiri narasi latihan visualisasi atau imajeri bagi seorang olahragawan yang akan menghadapi pertandingan, berikut ini 10 tahapan yang perlu diperhatikan:
1. Lihat, dengar dan rasakan diri sendiri melakukan aktivitas olahraga yang diinginkan.
2. Tuliskan detil urutan gerak dan suasana, atau rekam ke dalam kaset.
3. Mulailah dengan menuliskan olahragawan tiba di lapangan pertandingan, melakukan persiapan sampai dengan mulai pemanasan.
4. Tuliskan gambaran suasana dan lokasi pertandingan secara detil, termasuk cuaca, susunan tempat duduk penonton, ruang ganti, jenis lapangan, bentuk gedung, kebisingan, dan apa yang tubuh anda rasakan (misalnya: siap bertanding) serta hal lain yang relevan. Tuliskan secara obyektif dan gunakan kata-kata dan kalimat yang konotasinya positif.
5. Bayangkan diri anda berada dalam kondisi rileks namun siaga; penuh percaya diri; bertenaga; siap tanding; dan dapat mengontrol diri serta emosi. Sertakan pula kata-kata pembangkit semangat yang dapat membantu anda dalam pertandingan sesungguhnya.
6. Kemudian mulailah dengan saat memasuki pertandingan. Sertakan secara detil aktivitas dan gerakan yang biasa dilakukan, dan itu semua dapat dilakukan dengan start yang baik. Rasakan anda melakukan gerakan dengan teknik yang baik dan menghasilkan angka atau penampilan sempurna seperti yang diinginkan. Tuliskan secara rinci dan urut tahap-tahap selanjutnya sampai dengan selesainya pertandingan dengan hasil yang prima.
7. Setelah selesai menuliskan narasi imajeri, tuliskan pernyataan seputar perasaan anda yang rileks, percaya diri, bertenaga, fit, dan pantang menyerah.
8. Tuliskan seluruhnya menjadi semacam naskah (script), baca naskah tersebut berulang-ulang dan revisi seperlunya. Setelah anda puas, narasikan naskah tersebut untuk diri anda atau minta orang lain membacanya dan merekamnya ke dalam kaset atau CD.
9. Dengarkan rekaman tersebut apakah intonasi dan iramanya sudah tepat, kemudian buat revisi jika diperlukan, dan rekam lagi dengan dikombinasi dengan latihan relaksasi yang anda sukai. Jika anda suka, sisipkan latar suara musik sebagai penambah suasana yang menenangkan.
10. Dengarkan kaset tersebut setidaknya sekali dalam sehari, atau tiga sampai empat kali saat seminggu menjelang pertandingan. Pilihlah tempat dan waktu yang tenang, dimana anda tidak merasa ada gangguan, namun jangan sampai tertidur. Usahakan untuk selalu terjaga agar anda mendapat efek maksimal, dan duduk tegaklah jika anda merasa mengantuk saat mendengarkannya

Selain imajeri dalam melakukan pertandingan, dapat pula dituliskan naskah imajeri untuk berbagai situasi seperti berikut ini:
– Mempelajari dan melancarkan teknik gerakan baru
– Memperbaiki gerakan yang salah
– Melancarkan rangkaian gerakan
– Menghafal ‘route’ perlombaan
– Sebagai simulasi pertandingan
– Menghadapi lawan tertentu
– Menambah rasa percaya diri
– Meningkatkan daya dan ketahanan konsentrasi
– Mengurangi ketegangan
– “Replay” pertandingan
– Pemulihan cedera atau lelah

Dalam melakukan latihan imajeri, pastikan gerakan yang dibayangkan adalah gerakan yang benar. Mulailah latihan imajeri dengan latihan relaksasi. Buat berbagai skenario untuk segala kemungkinan, dan akhiri latihan imajeri dengan membayangkan kesuksesan.

Contoh Model Latihan Imajeri
Berikut ini contoh latihan imajeri bagi olahraga tenis lapangan, yang dapat pula dimodifikasi untuk cabang olahraga yang sesuai, seperti bulutangkis, tenis meja dan squash:
 Bayangkan diri anda memasuki lapangan tenis… terlihat pemain lain sedang bermain… rasakan cuaca dan suasana sekitar… dengarkan suara bola saat dipukul raket… resapi apa yang anda rasakan pada tubuh anda, anda sedikit tegang, tapi siap bermain… ingatlah bahwa ini hal biasa yang anda rasakan sebelum bertanding dan perasaan ini memotivasi anda untuk bermain bagus…
 Anda mulai melakukan pemanasan… mulai memukul bola… melakukan long and powerful strokes… gerakan anda enak… pukulan mantap… akurat… cepat… anda memukul dengan relaks namun bertenaga… penuh percaya diri…
 Pertandingan dimulai… anda melakukan serve dengan baik… anda bergerak dengan enak… enteng… cepat… pukulan akurat… dan anda sangat fokus…
 Lihat dan rasakan posisi anda… bola datang ke arah forehand… dan anda berada dalam posisi sempurna untuk mengambilnya… anda memukulnya dan melihatnya meluncur dengan keras ke arah yang anda tuju… bola dikembalikan lawan ke arah backhand, anda memukulnya dengan yakin… anda memukul silang… drop… lurus… lob… semua anda lakukan dengan irama dan tenaga yang sempurna… anda sangat fokus dan penuh percaya diri… anda mendapatkan angka… memenangkan game ini… angka lagi… menang lagi… anda merasa senang… nyaman… anda merasakan ringannya gerakan tubuh anda…
 Jika anda melihat penjaga garis menyebut bola ‘out’ padahal anda yakin bola itu masuk, anda tetap tenang… anda tarik nafas dalam dan membuangnya sambil mengatakan “relax”… tenang… anda fokus lagi kepada bola dan permainan… anda yakin akan kemampuan anda… pukulan anda semakin matang dan bertenaga… anda penuh percaya diri… anda mendengar penonton bertepuk tangan menyemangati anda… anda sangat menikmati permainan ini…
 Bayangkan seluruh pertandingan… setiap poin… setiap gerakan… anda yakin akan kemampuan dan pukulan anda… anda adalah pemain bagus… anda bisa memenangkan setiap game dengan bermain bagus… anda adalah seorang pemenang… anda menikmati permainan tenis… menikmati suasana pertandingan… anda memiliki kemampuan bermain tenis dengan baik, stamina anda bagus… dan anda dapat menampilkan permainan terbaik anda dalam pertandingan sesuai target yang dicanangkan… anda dapat melakukan apa yang ingin anda lakukan di lapangan…
 Latihan imajeri selesai…anda siap menghadapi pertandingan dengan penuh semangat dan percaya diri…

Contoh naskah imajeri di atas bukanlah harga mati dan untuk diterapkan di semua kesempatan. Dalam penyusunan naskah imajeri agar lebih bersifat pribadi dan spesifik, kalimat dalam contoh tersebut dapat dimodifikasi dengan gaya bahasa yang lebih mengena bagi setiap olahragawan yang akan menggunakannya, bahkan bisa digunakan bahasa atau dialek bahasa daerah atau bahasa pergaulan remaja. Kata ‘anda’ misalnya, dapat diganti dengan ‘kamu’, ‘saya’, ‘aku’ atau lainnya sesuai dengan siapa yang melafalkannya. Sebagai variasi, dapat pula latihan ini diiringi dengan latar belakang suara musik yang sayup-sayup, jangan terlalu keras, agar tidak mengganggu narasi.

juri saat seagames

BAB VI GOAL SETTING DAN PENCAPAIAN PRESTASI

Goal setting merupakan suatu mekanisme untuk mengidentifikasi apa yang ingin kita capai atau raih. Pada dasarnya, goal setting merupakan rangkaian kegiatan yang akan kita lakukan dalam mencapai prestasi. Pengembangan goal setting mendapat banyak perhatian dari para psikolog olahraga dimana penggunan dari program goal setting ini sekarang semakin luas dibeberapa area bahkan dalam bisnis dan menajemen. Dalam dunia olahraga, goal setting merupakan bagian yang penting dan mempunyai dampak langsung pada pencapaian atlet.
Dalam penelitian eksperimental, penerapan goal setting terbukti dapat meningkatkan performa. Menurut Locke (1990), goal setting mempunyai efek dalam meningkatan performa dengan empat cara, yaitu:
a. Goal setting fokus pada perhatian
b. Memobilisasi upaya yang proposional dalam setiap tugas dan tujuan
c. Meningkatkan persistensi pada tujuan
d. Penetapan sasaran mempunyai dampak secara tidak langsung pada individu untuk menetapkan dan mengembangkan strategi dalam mencapai target.

Prinsip Utama Goal Setting
Dalam menentukan goal setting terdapat empat prinsip utama, yaitu:
1. Difficulty: goal yang sulit akan meningkatkan performa dibanding dengan goal yang mudah.
2. Specificity: Goal yang spesifik akan lebih efektif dibandingkan dengan goal yang subyektif atau tidak ada goal.
3. Acceptance: goal akan lebih efektif jika ditetapkan atau dibuat sendiri oleh atlet.
4. Feedback: goal tidak akan efektif jika tidak diberikan umpan balik.

Prosedur penggunaan Goal Setting adalah SCAMP:
– Spesifik: harus spesifik, jelas. Contoh: “meningkatkan performa” – seberapa besar yang mau ditingkatkan, dan bagaimana cara mengukurnya. Memperkirakan bagaimana dapat mengembangkannya, dan kerja keras untuk dapat meraihnya.
– Challenging: Menantang/terkontrol – tetapkan goal sedikit lebih tinggi dari kemampuan yang ada sekarang, buat pencapaian goal tersebut dibawa kontrol anda sendiri bukan orang lain.
– Attainable: jangan membatasi diri anda dengan kegagalan-kegagalan. Semua goal harus berhubungan dengan apa yang anda miliki sekarang dan bertekat untuk memperbaiki setahap demi setahap. Jangan segan untuk mengganti goals anda jika terlihat tidak realistik lagi.
– Measurable: prestasi atau penncapaian akan sangat memotivasi jika dapat dilihat dengan nyata dan terukur
– Personal: goal yang anda buat harus sesuai dengan diri anda sendiri, tidak boleh terpengaruh oleh orang lain karena hal itu akan mempengaruhi komitmen dan obyektifitas anda sendiri.

Contoh: Coba anda pikirkan satu aspek yang ingin anda tingkatkan dan bagaimana tahapan-tahapan (program-program) nyata yang anda akan lakukan untuk mencapainya:
– Identifikasi aspek yang ingin ditingkatkan
– Skill kualifikasi apa yang diperlukan untuk meningkatkannya
– Latihan rutin yang bagaimana yang dapat membantu
– bagaimana anda dapat mengukurnya
– What is the present level of attaintment in term of this skills
– Tentukan tingkatan yang ingin anda capai dalam batasan waktu
– Latihan yang bagaimana yang akan anda lakukan untuk mencapai target anda dan bagaimana anda mengukurnya (time table)

Dalam menetapkan goals perlu dicantumkan beberapa hal sebagai berikut:
– Sasaran utama (primary goals)
– Tahapan sasaran: jangka pendek; menengah; panjang
– Sasaran tambahan selain sasaran utama
– Cara mengukur keberhasilan pencapaian sasaran (bagaimana untuk mengetahui bahwa setiap sasaran tercapai atau tidak)
– Jadwal waktu tercapainya setiap sasaran
– Rencana program, prosedur dan tahap-tahap pencapaian sasaran dalam latihan, ujicoba, kompetisi, juga dalam aspek lain seperti pendidikan, karir, dan sebagainya.
– Tambahan keterampilan, pengetahuan, kesempatan, perhatian dan sebagainya yang dibutuhkan untuk mendukung ketercapaian sasaran.