Diabetes Pada Anak / Remaja

Sekarang mungkin Anda tenang-tenang saja, karena selama ini hasil tes gula darah sewaktu anda masih jauh dibawah 200 mg/dl. Sehingga anda kurang memperhatikan gaya hidup dan pola makan. Padahal gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat dapat menyebabkan seseorang terkena diabetes.

Diabetes melitus yang dalam istilah awam sering disebut “kencing manis” adalah suatu kelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan adanya hiperglikemia (meningkatnya kadar glukosa dalam darah) akibat gangguan pada sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya.   Apa saja jenis diabetes? Berdasarkan etiologinya, diabetes melitus dibagi menjadi 4 tipe :

- Diabetes tipe 1: Disebabkan karena sel-sel pankreas yang memproduksi insulin dirusak oleh sistem pertahanan  tubuh kita sendiri (autoimun). Karena sel-sel tersebut rusak, hormon insulin tidak dapat diproduksi lagi. Diabetes tipe 1 ini biasa terjadi pada usia muda. – Diabetes tipe 2: 90-95% dari keseluruhan penderita diabetes. Diabetes tipe ini disebabkan karena insulin yang diproduksi tidak dapat bekerja dengan baik. Penyebabnya bisa karena insulin yang diproduksi tidak cukup atau sel tubuh kita tidak sensitif lagi terhadap insulin. Penyakit ini biasa didiagnosa pada usia 40 tahun atau lebih. – Diabetes tipe lain: Disebabkan karena kelainan hormon, pemakaian obat-obatan, infeksi virus,  antibodi, dan kelainan genetik . – Diabetes pada masa kehamilan atau gestasional diabetes.   Seberapa banyak orang yang menderita? Sebagai informasi, Indonesia merupakan negara ke-4 dengan jumlah penderita diabetes melitus terbesar di dunia. Berdasarkan laporan International Diabetes Federation, jumlah pasien diabetes di dunia akan meningkat dari 240 juta jiwa pada tahun 2007 menjadi sekitar 380 juta jiwa pada tahun 2025. Menurut CDC, setiap tahunnya terdapat lebih dari 13.000 anak muda yang didiagnosa diabetes tipe 1.

Dan diabetes tipe 2 yang biasa ditemukan saat usia dewasa (> 40 tahun), insidennya mulai meningkat pada usia anak dan remaja. Menurut laporan kasus di Amerika terdapat 8 – 46% kasus diabetes tipe 2 dari seluruh kasus baru diabetes yang dirujuk ke pusat perawatan anak. Mengapa diabetes semakin banyak menyerang usia muda? Mengapa insiden diabetes tipe 2 meningkat pada anak muda? Hal ini terutama disebabkan oleh perubahan gaya hidup yaitu kurangnya aktivitas dan obesitas. Obesitas inilah yang nantinya menyebabkan sel-sel di tubuh kita menjadi tidak sensitif lagi terhadap insulin dan akhirnya dapat menyebabkan diabetes.

 

Selain itu riwayat diabetes tipe 2 pada keluarga, pubertas, perempuan, dan pertumbuhan janin yang terhambat juga merupakan faktor risiko yang meningkatkan insiden terjadinya diabetes tipe 2. Biasanya diabetes tipe 2 didiagnosa pada umur 10-19 tahun.   Gejala Klinis: Acanthosis nigrican  Untuk mendeteksi seorang anak dengan diabetes tipe 2 sangat sulit karena umumnya tidak bergejala atau gejalanya ringan. Sehingga penyakit ini tidak terdiagnosa untuk waktu yang lama.

Adapun gejala yang muncul adalah mudah lapar, mudah haus, dan sering buang air kecil. Umumnya 60-90% dari anak muda yang terserang diabetes tipe 2, menderita kelainan kulit yang disebut “acanthosis nigricans“, yaitu penebalan dan hiperpigmentasi dari kulit di daerah leher dan lipatan-lipatan. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya sensitifitas sel terhadap insulin, sehingga insulin tidak dapat dipakai dan beredar bebas di dalam darah. Insulin yang tinggi didalam darah ini merangsang aktivitas sel-sel pada kulit. Kelainan kulit ini bisa dijadikan tanda/marker untuk anak muda yang beresiko menderita diabetes tipe 2.   Kapan diperiksa laboratorium? Sebagian dari kita mungkin bertanya-tanya, kapankah kita perlu melakukan pemeriksaan laboratorium? American Diabetes Association dan American Academy of Pediatrics merekomendasikan untuk memeriksa  anak >10 tahun atau pubertas dengan indeks massa tubuh melebihi persentil ke-85, mempunyai riwayat keluarga yang menderita diabetes, mempunyai gejala gangguan sensitivitas insulin yaitu acanthosis nigrican, sindrom polikistik ovarium, hipertensi, dan dislipidemia. Acanthosis nigricans   Kriteria diagnosis Berdasarkan Standards of Medical Care in Diabetes 2011, berikut ini adalah kriteria diagnosis untuk diabetes : HbA1c ≥ 6,5% Kadar glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl (puasa didefinisikan tidak adanya ambilan kalori setidaknya selama 8 jam ) Kadar glukosa darah ≥200 mg/dl pada 2 jam sesudah beban glukosa 75 gram pada TTGO (Tes Toleransi Glukosa Oral) Pasien dengan gejala klasik hiperglikemia , kadar glukosa darah sewaktu ≥200 mg/dl   Diabetes dan komplikasinya Jika penyakit ini tidak segera diatasi, dapat muncul berbagai komplikasi seperti stroke, kelainan jantung, kelainan pembuluh darah dan saraf di kaki serta kelainan pada ginjal. Oleh karena itu sebaiknya jangan sampai anda terkena penyakit ini. Terutama bagi anak-anak muda dengan faktor risiko seperti yang dijelaskan diatas, mulailah ubah gaya hidup anda. Mulai coba turunkan berat badan pada orang dengan berat badan berlebih, olahraga secara teratur, dan kurangi konsumsi makanan “junk food” serta perbanyak konsumsi makanan dengan gizi seimbang. Namun jika kadar glukosa dalam darah masih tinggi diperlukan terapi farmakologis. Terapi yang digunakan berupa obat hipoglikemi oral ataupun insulin.

contoh lipatan leher yg terindikasi diabetes

Sumber blog ini.

Referensi Juliana C. N. Chan, MBChB, MD,et al. Diabetes in Asia : Epidemiology, Risk Factors, and Pathophysiology.2009. American Medical Association Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus. 2011. American Diabetes Association Bloomgarden, Zachary T. Type 2 Diabetes in the Young. 2004. American Diabetes Association Standards of Medical Care in Diabetes. 2011. American Diabetes Association http://www.cdc.gov/diabetes/projects/cda2.htm

Thanks Pak Dokter
Artikel kesehatan di : http://www.tanyadok.com/kesehatan/hati-hati-diabetes-mulai-menyerang-usia-muda

HUB : http://www.facebook.com/hu53n

Mencegah Terjadinya Computer Vision Syndrome(CVS)

untuk yang sering kerja didepan komputer

Adakah cara untuk mencegah terjadinya computer vision syndrome(CVS)?

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya computer vision syndrome(CVS):

Kurangi cahaya yang menyilaukan. Ubahlah cahaya yang ada di sekitar anda untuk mengurangi pantulan cahaya yang menyilaukan yang datang dari layar komputer. Jika anda bekerja di dekat jendela, aturlah letak layar monitor sedemikan rupa untuk mengurangi pantulan cahaya yang menyilaukan dari pantulan layar monitor. Meredupkan cahaya ruangan dapat membantu mengurangi pantulan cahaya dari layar monitor.
Mengatur ulang meja kerja. Menurut para ahli, posisi optimal layar komputer adalah berada di bawah mata artinya kepala tidak sejajar atau menengadah untuk melihat layar monitor. Jarak antara mata dan layar monitor diusahakan sekitar 40 – 50 cm. Taruhlah materi yang anda ketik tepat di sebelah layar komputer untuk mencegah anda berulang ulang memandang meja untuk melihat materi ketikan.
Istirahatkan mata anda. Pandanglah obyek yang jauh setiap 20 menit selama 20 detik untuk mengistirahatkan mata anda. Berkediplah sesering mungkin agar mata anda tidak kering dan selalu lembab.
Aturlah settingan komputer anda. Aturlah kecerahan layar sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kenyamanan mata anda.
Pilih layar komputer yang sesuai. Gunakan layar komputer yang nyaman di mata dan mampu memberikan kenyamanan pada mata. Layar komputer yang baik adalah yang bebas kedip atau flicker, hal ini tentu saja untuk mengurangi kelelahan pada mata yang berimbas pada terjadinya computer vision syndrome(CVS).
Kunjungilah dokter. Cobalah untuk berkonsultasi ke dokter bila anda merasa ada gangguan pada mata setelah bekerja lama di depan komputer. Anda mungkin saja memerlukan kaca mata untuk mengatasi masalah penglihatan saat bekerja di depan komputer

juri saat seagames

Pengertian Tes dan Pengukuran

kapasitas 20.000 mah. harga Rp 250.000. cod bekasi minat hub : admin blog atau 74b1ee4d

kapasitas 20.000 mah. harga Rp 250.000. cod bekasi minat hub : admin blog atau 74b1ee4d

Suharsiwi Asukunto (1995 : 51) Mengemukakan tentang pengertian Tes, yaitu tes adalah suatu alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan.

Dari hasil tes, biasanya diperoleh tentang atribut atau sifat-sifat yang terdapat pada individu atau objek yang bersangkutan. Data dapat dihimpun melalui tes, angket, observasi, dan wawancara atau bentuk lainnya yang sesuai.

Nurhasan (2000:3) Pengukuran adalah proses pengumpulan data / informasi dari obyek tertentu, dalam proses pengukuran diperlukan suatu alat ukur. Alat ukur itu bisa berupa a) tes dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan, b) tes dalam bentuk psikomotor, c) berupa sklala sikap dan berupa alat ukur yang bersifat standar misalnya ukuran meter, berat, ukuran suhu.

Dengan alat ukur ini kita akan memperoleh data dari suatu objek tertentu, sehingga kita dapat mengungkapkan tentang keadaan objek tersebut secara objektif.

Nurhasan (2000:7) Tes dan pengukuran merupakan bagian yang integral dalam proses penilaian hasil belajar siswa. dengan melalui tes dan pengukuran kita akan memperoleh data yang obyektif dari suatu obyek yang diukur.

Arikunto, Suharsimi (1995), Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara, Jakarta

Nurhasan (2000), Tes dan Pengukuran Pendidikan Olahraga, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, UNISMA, Bekasi.

1510391_666864966668599_1694088887_n

Soal uts / uas PJOK/penjasorkes/penjaskes SD

Mata Pelajaran : PJOK                                            N a m a    : …………………….
K e l a s                 : I ( Satu )                                      N o m o r : …………………….

I. Berilah tanda silang (x) pada huruf a,b, atau c pada jawaban yang benar!
1. Sikap badan saat berdiri adalah ….
a. bungkuk b. miring c. tegak
2. Gerakan memutar tangan melatih otot ….
a. badan b. lengan c. punggung
3. Gerakan menyentuh ujung kaki disebut juga gerakan ….
a. membungkuk b. mengayun c. memutar
4. Saat berjalan pandangan menghadap ….
a. depan b. samping c. belakang
5. Kuku yang panjang harus ….
a. dipotong b. dipelihara c. dibiarkan
6. Gerakan katak melompat diawali sikap …..
a. berdiri b. jongkok c. duduk
7. Sebelum tidur harus ….
a. sikat gigi b. sikat-sikat c. main
8. Sebelum olahraga sebaiknya melakukan ….
a. pendinginan b. pemanasan c. pemulihan
9. Senam dapat membuat badan menjadi ….
a. sehat b. sakit c. lemas
10. Saat bermain bola TIDAK BOLEH ….
a. berteman b. berantem c. kerjasama
11. Untuk melatih kecepatan dapat dilakukan dengan cara….
a. latihan lari b. mengangkat beban c. duduk
12. Olahraga sebaiknya dilakukan di ….
a. kelas b. lapangan c. ruangan
13. Jika terlalu banyak minum es mengakibatkan ….
a. sehat b. sakit perut c. segar
14. Makanan yang sehat adalah makanan yang ….
a. mahal b. manis c. bersih dan matang
15. Jika tangan kotor harus . . . . .
a. asal-asalan b. dibersihkan c. dibiarkan

II. Isilah Titik-Titik di bawah ini dengan jawaban yang singkat dan tepat !

  1. Buanglah sampah ke  . . . .
  2. Menangkap bola menggunakan  . . .
  3. Melompat melatih kekuatan otot . . . .
  4. Sebelum olahraga sebaiknya melakukan . . . . .
  5. Sikap pesawat terbang melatih . . . .
  6.  Menggosok gigi sesudah makan dan  . . . . .
  7. Gerakan membungkuk melatih otot
  8. Olahraga membuat badan menjadi . . . .
  9. Tangan yang kotor akan membawa . . . .
  10.  Apabila kuku tangan sudah panjang harus . . . . .

 

kalau butuh soal kelas yg lainnya hub admin web ini https://www.facebook.com/hu53n

 

HUB : http://www.facebook.com/hu53n

Hakikat Belajar Mengajar

1.Hakikat Belajar Mengajar
Dalam kegiatan belajar mengajar, anak adalah sebagai subjek dan sebagai objek dari kegiatan pengajaran. Karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai jika anak didik berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan anak didik di sini tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik anak yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya anak didik tidak belajar, karena anak didik tidak merasakan perubahan di dalam dirinya. Padahal belajar pada hakikatnya adalah “perubahan” yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar. Walaupun pada kenyataannya tidak semua perubahan termasuk kategori belajar. Misalnya, perubahan fisik, mabuk, gila dan sebagainya.
Kegiatan mengajar bagi seorang guru menghendaki hadirnya sejumlah anak didik. Berbeda dengan belajar. Belajar tidak selamanya memerlukan kehadiran seorang guru. Cukup banyak aktivitas yang dilakukan oleh seseorang di luar dari keterlibatan guru. Belajar di rumah cenderung menyendiri dan terlalu banyak mengaharapkan bantuan dari oang lain. apalagi aktivitas belajar itu berkenaan dengan kegiatan membaca sebuah buku tertentu.
Mengajar pasti merupakan kegiatan yang mutlak memerlukan keterlibatan individu anak didik. Bila tidak ada anak didik atau objek didik, siapa yang diajar. Karena itu belajar dan mengajar merupakan istilah yang sudah baku dan menyatu di dalam konsep pengajaran.
Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar adalah dwitunggal dalam perpisahan raga jiwa bersatu antara guru dan anak didik. Biasanya permasalahan yang guru hadapi ketika berhadapan dengan sejumlah anak didik adalah masalah pengelolaan kelas. Apa, siapa, bagaimana, kapan, dan dimana adalah serentetan pertanyaan yang perlu dijawab dalam hubungannya dengan masalah pengelolaan kelas. Peranan guru itu paling tidak berusaha mengatur suasana kelas yang kondusif bagi kegairahan dan kesenangan belajar anak didik. Setiap kali guru masuk kelas selalu dituntut untuk mengelola kelas hingga berakhirnya kegiatan belajar mengajar. Jadi, masalah pengturan kelas ini tidak akan pernah sepi dari kegiatan guru. Semua kegiatan ini guru lakukan tidak lain demi kepentingan anak didik, demi keberhasilan belajar anak didik.
Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakikatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkah dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengajar adalah proses memberikan bimbingan/bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar (Nana Sudjana, 1991 : 29)
Peranan guru sebagai pembimbing bertolak dari cukup banyaknya anak didik yang bermasalah. Dalam belajar ada anak didik yang cepat mencerna bahan, ada anak didik yang sedang mencerna bahan, dan ada pula anak didik yang lamban mencerna bahan yang diberikan oleh guru. Ketiga tipe belajar anak didik ini menghendaki agar guru mengatur strategi pengajarannya yang sesuai dengan gaya-gaya belajar anak didik.
Menurut Whittaker, dalam Syaiful Bahri Djamarah (2008:13) mengatakan bahwa “Learning is the process by which behavior (in the broader sense) is originated or change through practice or training. Belajar merupakan proses dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.
Berangkat dari teori Hilgard dalam Sanjaya (2011:112) , mengungkapkan bahwa belajar dianggap sebagai proses perubahan perilaku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan. Hilgard mengungkapkan: “Learning is the process by wich an activity originates or changed trough training procedurs (wether in the laboratory or in the natural environment) as distinguished from changes by factors not atributable to training.” Bagi Hilgard, belajar itu adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan di dalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah.
Belajar bukanlah sekedar mengumpulkan pengetahuan. Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku. Aktivitas mental itu terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungan yang disadari.
Menurut Whittaker dalam Syaiful Bahri Djamarah (2008: 12), “belajar dirumuskan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman”.
Menurut Edgar Dafe dalam Dindin Abidin (2007:14) belajar yang baik adalah belajar melalui pengalaman langsung.
Menurut Jhon Dewey, belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung, belajar harus dilakukann siswa secara aktif, baik individual, maupun kelompok, dengan cara memecahkan masalah.
Menurut John Locke, manusia itu merupakan organisme yang pasif. Dengan teori tabularasanya, Locke menganggap bahwa manusia itu seperti kertas putih, hendak ditulisi apa kertas itu sangat tergantung pada orang yang menulisnya. Dari pandangan yang mendasar tentang hakikat manusia itu, memunculkan aliran belajar behavioristik yang meliputi:
1. Mementingkan pengaruh lingkungan
2. Mementingkan bagian-bagian
3. Mengutamakan peranan reaksi
4. Hasil belajar terbentuk secara mekanis
5. Dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu
6. Mementingkan pembentukan kebiasaan
7. Memecahkan masalah dilakukan dengan cara trial and error
Bila hakikat belajar adalah “perubahan”, maka hakikat belajar mengajar adalah proses “pengaturan” yang dilakukan oleh guru. Dapat disimpulkan belajar adalah perubahan tingkah laku yang terjadi pada siswa sebagai proses yang berlangsung dalam jangka waktu lama melalui latihan maupun pengalaman untuk memperoleh kebiasaan, pengetahuan, dan sikap. Sedangkan hakikat belajar mengajar adalah proses mengatur dan mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar anak didik, sehingga dapat memotivasi, membantu, membimbing anak didik melalui proses belajar.

Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosdakarya

Abidin, Dindin dan Acep Mulyadi. Belajar dan Pembelajaran. Bekasi: FKIP UNISMA Bekasi.

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosdakarya

BAB VII IMAGERY TRAINING DAN PENCAPAIAN PRESTASI

Pengertian Imajeri
Imajeri (imagery) merupakan suatu proses di dalam pikiran, dimana pengalaman sensori disimpan di dalam memori dan secara internal diulang dan dialami lagi di dalam pikiran, tanpa perlu menghadirkan stimulus eksternalnya. Artinya, imajeri merupakan suatu pengulangan gerakan, kejadian, situasi atau pengalaman di dalam pikiran, yang dilakukan secara sengaja namun tidak memerlukan adanya suasana, kondisi, peralatan ataupun orang-orang yang sebenarnya ada di dalam pengalaman atau kejadian yang sesungguhnya.
Latihan visualisasi dan imajeri merupakan suatu aktivitas membayangkan serangkaian gerakan di dalam pikiran atau kreasi mental yang dilakukan secara sadar, aktif, terencana dan sistematis. Istilah visualisasi dan imajeri dalam penggunaannya sehari-hari seringkali dicampur aduk atau disamakan, namun sesungguhnya perbedaan antara visualisasi dengan imajeri adalah dalam hal pelibatan panca indera. Pada visualisasi, hanya indera penglihatan yang dominan, sedangkan pada imajeri si olahragawan bukan hanya ‘melihat’ gerakan dirinya namun juga memberfungsikan indera pendengaran, perabaan, penciuman bahkan pengecapan, untuk mengulang atau menciptakan pengalaman di dalam pikirannya. Latihan imajeri dapat juga diterapkan dengan memperagakan gerakan tersebut. Dalam buku ini istilah latihan imajeri lebih sering digunakan.
Manfaat daripada latihan imajeri, antara lain adalah untuk mempelajari atau mengulang gerakan baru; memperbaiki suatu gerakan yang salah atau belum sempurna; latihan simulasi dalam pikiran; dan latihan bagi olahragawan yang sedang menjalani rehabilitasi cedera. Latihan imajeri ini seringkali disamakan dengan latihan visualisasi karena sama-sama melakukan pembayangan gerakan di dalam pikiran. Namun, di dalam imajeri si olahragawan bukan hanya ‘melihat’ gerakan dirinya namun juga memberfungsikan indera pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecapan. Untuk dapat menguasai latihan imajeri, seorang olahragawan harus mahir dulu dalam melakukan latihan relaksasi.
Teknik imajeri merupakan suatu alat bantu yang dapat diterapkan dalam kepelatihan olahraga, konseling, dan terapi. Penerapan imajeri dalam olahraga, dapat difokuskan kepada pengembangan keterampilan (skill development), penguatan atau pembentukan sikap, dan persiapan mental menghadapi kompetisi atau pertandingan.
Ada beberapa teknik latihan visualisasi atau imajeri yang dapat dilakukan di dalam atau di luar lapngan. Waktu yang dibutuhkan juga relatif, bisa sangat singkat hanya dalam hitungan detik sampai menit, dan dapat dilakukan dengan mata tertutup ataupun terbuka, dapat dilakukan di tempat yang sunyi ataupun ramai, bahkan pada saat sedang melakukan pertandingan. Latihan visualisasi yang lebih panjang dan terpandu (guided visualization) biasanya dilakukan dengan menyendiri di ruang yang sunyi, tenteram, nyaman (umumnya di kamar tidur atau ruang khusus), terutama dilakukan pada awal melakukan latihan visualisasi, atau pada saat digunakan untuk meredakan ketegangan.
Hakekat imajeri, pada intinya ada tiga hal, yaitu: (1) mengulang pengalaman bahkan menciptakan pengalaman baru dalam pikiran; (2) mengaktifkan seluruh panca-indera seperti halnya dalam pengalaman nyata; (3) tidak diperlukan adanya stimulus eksternal, artinya tidak perlu harus berada di tempat sesungguhnya dengan mempergunakan alat yang sesungguhnya.
Dalam imajeri yang lebih kompleks, olahragawan dapat melakukan latihan simulasi dengan melibatkan berbagai suasana, situasi, strategi dan segala hal yang mungkin ditemui atau terjadi dalam pertandingan sesungguhnya. Latihan imajeri juga sangat bermanfaat bagi olahragawan yang sedang tidak dapat melakukan latihan fisik karena mengalami cedera. Dapat pula diterapkan jika tidak memungkinkan melakukan suatu latihan fisik atau teknik karena ada gangguan cuaca atau sedang dalam perjalanan.
Untuk menguasai kecakapan imajeri, diperlukan pemahaman yang mendalam dari olahragawan dan bimbingan yang jelas dari pelatih mental, agar tidak terjadi kekeliruan dalam menerapkannya. Pelatih mental atau psikolog olahraga dibutuhkan sebagai pendamping olahragawan saat melakukan latihan imajeri, untuk misalnya memandu latihan imajeri, memilih kata-kata yang tepat untuk digunakan dalam imajeri, dan meningkatkan kemampuan imajeri.

Prinsip Latihan Imajeri

Latihan imajeri jika dilakukan dengan program yang tepat dapat bermanfaat untuk mempersiapkan olahragawan dalam melakukan suatu gerakan, gaya, atau keterampilan baru. Dapat pula diterapkan untuk memperbaiki suatu gerakan, gaya, atau cara bereaksi. Selain itu, kesadaran diri olahragawan, meningkatkan rasa percaya diri, mengontrol emosi, mengurangi rasa sakit, mengatur gugahan semangat (arousal), serta memantapkan strategi persiapan pertandingan.
Untuk melakukan latihan imajeri, perhatikan panduan berikut ini:
- Lakukan latihan imajeri dalam waktu khusus yang teratur; sama seperti latihan fisik.
- Gunakan seluruh indera untuk memperjelas bayangan dalam pikiran.
- Lakukan kontrol terhadap apa yang dibayangkan dalam imajeri.
- Gunakan baik eksternal perspektif (membayangkan dengan melihat diri dari luar diri) maupun internal perspektif (membayangkan dan meresapi saat melakukan gerakan atau pengalaman).
- Permudah latihan imajeri melalui bantuan teknik relaksasi.
- Kembangkan strategi coping melalui imajeri: jangan hanya membayangkan sukses, namun perlu juga membayangkan kegagalan dan bagaimana strategi mengatasi kegagalan tersebut.
- Gunakan imajeri dalam sesi latihan maupun sesaat sebelum pertandingan.
- Kualitas imajeri akan bertambah jika digunakan dalam latihan sehari-hari, sehingga akan membantu olahragawan dalam menghadapi situasi yang menekan di dalam kompetisi.
- Gunakan video-audiotapes untuk meningkatkan keterampilan imajeri.
- Gunakan “triggers” atau tanda pencetus untuk membantu kualitas imajeri: dapat berupa kata-kata kunci atau gerakan yang akan mengembalikan konsentrasi dan semangat olahragawan.
- Lakukan imajeri dengan bantuan gerakan kinestetik yang dinamis: seolah-olah melakukan gerakan yang sebenarnya; seperti yang dilakukan dalam “shadow boxing”.
- Bayangkan kecepatan gerak imajeri dalam tempo yang tepat, sesuai dengan gerakan sebenarnya: jangan dilakukan dengan “slow motion” atau bahkan lebih cepat.
- Gunakan buku catatan imajeri (imagery logs): untuk memantau kemajuan latihan dan sebagai alat untuk monitoring dan evaluasi.

Penyusunan Naskah Imajeri

Instruksi dalam latihan imajeri yang terpandu dapat dilakukan oleh pelatih, psikolog, atau mental trainer yang sudah terlatih untuk itu. Narasi dari panduan latihan imajeri dapat direkam ke dalam kaset atau CD dan diiringi dengan musik yang sayup-sayup sebagai latar. Bahkan, saat ini di pasaran telah tersedia kaset atau CD yang berupa panduan dasar latihan imajeri atau relaksasi dan meditasi secara umum. Dengan latihan imajeri yang terpandu, latihan juga dapat dilakukan secara massal asalkan suara pemandu dapat terdengar dengan jelas, dan setiap olahragawan mendapatkan posisi yang nyaman.
Berhubung sifat latihan imajeri adalah spesifik karena dilakukan dalam pikiran masing-masing individu, maka sebaiknya narasi latihan imajeri juga dibuat spesifik untuk setiap individu. Untuk menuliskan sendiri narasi latihan visualisasi atau imajeri bagi seorang olahragawan yang akan menghadapi pertandingan, berikut ini 10 tahapan yang perlu diperhatikan:
1. Lihat, dengar dan rasakan diri sendiri melakukan aktivitas olahraga yang diinginkan.
2. Tuliskan detil urutan gerak dan suasana, atau rekam ke dalam kaset.
3. Mulailah dengan menuliskan olahragawan tiba di lapangan pertandingan, melakukan persiapan sampai dengan mulai pemanasan.
4. Tuliskan gambaran suasana dan lokasi pertandingan secara detil, termasuk cuaca, susunan tempat duduk penonton, ruang ganti, jenis lapangan, bentuk gedung, kebisingan, dan apa yang tubuh anda rasakan (misalnya: siap bertanding) serta hal lain yang relevan. Tuliskan secara obyektif dan gunakan kata-kata dan kalimat yang konotasinya positif.
5. Bayangkan diri anda berada dalam kondisi rileks namun siaga; penuh percaya diri; bertenaga; siap tanding; dan dapat mengontrol diri serta emosi. Sertakan pula kata-kata pembangkit semangat yang dapat membantu anda dalam pertandingan sesungguhnya.
6. Kemudian mulailah dengan saat memasuki pertandingan. Sertakan secara detil aktivitas dan gerakan yang biasa dilakukan, dan itu semua dapat dilakukan dengan start yang baik. Rasakan anda melakukan gerakan dengan teknik yang baik dan menghasilkan angka atau penampilan sempurna seperti yang diinginkan. Tuliskan secara rinci dan urut tahap-tahap selanjutnya sampai dengan selesainya pertandingan dengan hasil yang prima.
7. Setelah selesai menuliskan narasi imajeri, tuliskan pernyataan seputar perasaan anda yang rileks, percaya diri, bertenaga, fit, dan pantang menyerah.
8. Tuliskan seluruhnya menjadi semacam naskah (script), baca naskah tersebut berulang-ulang dan revisi seperlunya. Setelah anda puas, narasikan naskah tersebut untuk diri anda atau minta orang lain membacanya dan merekamnya ke dalam kaset atau CD.
9. Dengarkan rekaman tersebut apakah intonasi dan iramanya sudah tepat, kemudian buat revisi jika diperlukan, dan rekam lagi dengan dikombinasi dengan latihan relaksasi yang anda sukai. Jika anda suka, sisipkan latar suara musik sebagai penambah suasana yang menenangkan.
10. Dengarkan kaset tersebut setidaknya sekali dalam sehari, atau tiga sampai empat kali saat seminggu menjelang pertandingan. Pilihlah tempat dan waktu yang tenang, dimana anda tidak merasa ada gangguan, namun jangan sampai tertidur. Usahakan untuk selalu terjaga agar anda mendapat efek maksimal, dan duduk tegaklah jika anda merasa mengantuk saat mendengarkannya

Selain imajeri dalam melakukan pertandingan, dapat pula dituliskan naskah imajeri untuk berbagai situasi seperti berikut ini:
- Mempelajari dan melancarkan teknik gerakan baru
- Memperbaiki gerakan yang salah
- Melancarkan rangkaian gerakan
- Menghafal ‘route’ perlombaan
- Sebagai simulasi pertandingan
- Menghadapi lawan tertentu
- Menambah rasa percaya diri
- Meningkatkan daya dan ketahanan konsentrasi
- Mengurangi ketegangan
- “Replay” pertandingan
- Pemulihan cedera atau lelah

Dalam melakukan latihan imajeri, pastikan gerakan yang dibayangkan adalah gerakan yang benar. Mulailah latihan imajeri dengan latihan relaksasi. Buat berbagai skenario untuk segala kemungkinan, dan akhiri latihan imajeri dengan membayangkan kesuksesan.

Contoh Model Latihan Imajeri
Berikut ini contoh latihan imajeri bagi olahraga tenis lapangan, yang dapat pula dimodifikasi untuk cabang olahraga yang sesuai, seperti bulutangkis, tenis meja dan squash:
 Bayangkan diri anda memasuki lapangan tenis… terlihat pemain lain sedang bermain… rasakan cuaca dan suasana sekitar… dengarkan suara bola saat dipukul raket… resapi apa yang anda rasakan pada tubuh anda, anda sedikit tegang, tapi siap bermain… ingatlah bahwa ini hal biasa yang anda rasakan sebelum bertanding dan perasaan ini memotivasi anda untuk bermain bagus…
 Anda mulai melakukan pemanasan… mulai memukul bola… melakukan long and powerful strokes… gerakan anda enak… pukulan mantap… akurat… cepat… anda memukul dengan relaks namun bertenaga… penuh percaya diri…
 Pertandingan dimulai… anda melakukan serve dengan baik… anda bergerak dengan enak… enteng… cepat… pukulan akurat… dan anda sangat fokus…
 Lihat dan rasakan posisi anda… bola datang ke arah forehand… dan anda berada dalam posisi sempurna untuk mengambilnya… anda memukulnya dan melihatnya meluncur dengan keras ke arah yang anda tuju… bola dikembalikan lawan ke arah backhand, anda memukulnya dengan yakin… anda memukul silang… drop… lurus… lob… semua anda lakukan dengan irama dan tenaga yang sempurna… anda sangat fokus dan penuh percaya diri… anda mendapatkan angka… memenangkan game ini… angka lagi… menang lagi… anda merasa senang… nyaman… anda merasakan ringannya gerakan tubuh anda…
 Jika anda melihat penjaga garis menyebut bola ‘out’ padahal anda yakin bola itu masuk, anda tetap tenang… anda tarik nafas dalam dan membuangnya sambil mengatakan “relax”… tenang… anda fokus lagi kepada bola dan permainan… anda yakin akan kemampuan anda… pukulan anda semakin matang dan bertenaga… anda penuh percaya diri… anda mendengar penonton bertepuk tangan menyemangati anda… anda sangat menikmati permainan ini…
 Bayangkan seluruh pertandingan… setiap poin… setiap gerakan… anda yakin akan kemampuan dan pukulan anda… anda adalah pemain bagus… anda bisa memenangkan setiap game dengan bermain bagus… anda adalah seorang pemenang… anda menikmati permainan tenis… menikmati suasana pertandingan… anda memiliki kemampuan bermain tenis dengan baik, stamina anda bagus… dan anda dapat menampilkan permainan terbaik anda dalam pertandingan sesuai target yang dicanangkan… anda dapat melakukan apa yang ingin anda lakukan di lapangan…
 Latihan imajeri selesai…anda siap menghadapi pertandingan dengan penuh semangat dan percaya diri…

Contoh naskah imajeri di atas bukanlah harga mati dan untuk diterapkan di semua kesempatan. Dalam penyusunan naskah imajeri agar lebih bersifat pribadi dan spesifik, kalimat dalam contoh tersebut dapat dimodifikasi dengan gaya bahasa yang lebih mengena bagi setiap olahragawan yang akan menggunakannya, bahkan bisa digunakan bahasa atau dialek bahasa daerah atau bahasa pergaulan remaja. Kata ‘anda’ misalnya, dapat diganti dengan ‘kamu’, ‘saya’, ‘aku’ atau lainnya sesuai dengan siapa yang melafalkannya. Sebagai variasi, dapat pula latihan ini diiringi dengan latar belakang suara musik yang sayup-sayup, jangan terlalu keras, agar tidak mengganggu narasi.

juri saat seagames

BAB VI GOAL SETTING DAN PENCAPAIAN PRESTASI

Goal setting merupakan suatu mekanisme untuk mengidentifikasi apa yang ingin kita capai atau raih. Pada dasarnya, goal setting merupakan rangkaian kegiatan yang akan kita lakukan dalam mencapai prestasi. Pengembangan goal setting mendapat banyak perhatian dari para psikolog olahraga dimana penggunan dari program goal setting ini sekarang semakin luas dibeberapa area bahkan dalam bisnis dan menajemen. Dalam dunia olahraga, goal setting merupakan bagian yang penting dan mempunyai dampak langsung pada pencapaian atlet.
Dalam penelitian eksperimental, penerapan goal setting terbukti dapat meningkatkan performa. Menurut Locke (1990), goal setting mempunyai efek dalam meningkatan performa dengan empat cara, yaitu:
a. Goal setting fokus pada perhatian
b. Memobilisasi upaya yang proposional dalam setiap tugas dan tujuan
c. Meningkatkan persistensi pada tujuan
d. Penetapan sasaran mempunyai dampak secara tidak langsung pada individu untuk menetapkan dan mengembangkan strategi dalam mencapai target.

Prinsip Utama Goal Setting
Dalam menentukan goal setting terdapat empat prinsip utama, yaitu:
1. Difficulty: goal yang sulit akan meningkatkan performa dibanding dengan goal yang mudah.
2. Specificity: Goal yang spesifik akan lebih efektif dibandingkan dengan goal yang subyektif atau tidak ada goal.
3. Acceptance: goal akan lebih efektif jika ditetapkan atau dibuat sendiri oleh atlet.
4. Feedback: goal tidak akan efektif jika tidak diberikan umpan balik.

Prosedur penggunaan Goal Setting adalah SCAMP:
- Spesifik: harus spesifik, jelas. Contoh: “meningkatkan performa” – seberapa besar yang mau ditingkatkan, dan bagaimana cara mengukurnya. Memperkirakan bagaimana dapat mengembangkannya, dan kerja keras untuk dapat meraihnya.
- Challenging: Menantang/terkontrol – tetapkan goal sedikit lebih tinggi dari kemampuan yang ada sekarang, buat pencapaian goal tersebut dibawa kontrol anda sendiri bukan orang lain.
- Attainable: jangan membatasi diri anda dengan kegagalan-kegagalan. Semua goal harus berhubungan dengan apa yang anda miliki sekarang dan bertekat untuk memperbaiki setahap demi setahap. Jangan segan untuk mengganti goals anda jika terlihat tidak realistik lagi.
- Measurable: prestasi atau penncapaian akan sangat memotivasi jika dapat dilihat dengan nyata dan terukur
- Personal: goal yang anda buat harus sesuai dengan diri anda sendiri, tidak boleh terpengaruh oleh orang lain karena hal itu akan mempengaruhi komitmen dan obyektifitas anda sendiri.

Contoh: Coba anda pikirkan satu aspek yang ingin anda tingkatkan dan bagaimana tahapan-tahapan (program-program) nyata yang anda akan lakukan untuk mencapainya:
- Identifikasi aspek yang ingin ditingkatkan
- Skill kualifikasi apa yang diperlukan untuk meningkatkannya
- Latihan rutin yang bagaimana yang dapat membantu
- bagaimana anda dapat mengukurnya
- What is the present level of attaintment in term of this skills
- Tentukan tingkatan yang ingin anda capai dalam batasan waktu
- Latihan yang bagaimana yang akan anda lakukan untuk mencapai target anda dan bagaimana anda mengukurnya (time table)

Dalam menetapkan goals perlu dicantumkan beberapa hal sebagai berikut:
- Sasaran utama (primary goals)
- Tahapan sasaran: jangka pendek; menengah; panjang
- Sasaran tambahan selain sasaran utama
- Cara mengukur keberhasilan pencapaian sasaran (bagaimana untuk mengetahui bahwa setiap sasaran tercapai atau tidak)
- Jadwal waktu tercapainya setiap sasaran
- Rencana program, prosedur dan tahap-tahap pencapaian sasaran dalam latihan, ujicoba, kompetisi, juga dalam aspek lain seperti pendidikan, karir, dan sebagainya.
- Tambahan keterampilan, pengetahuan, kesempatan, perhatian dan sebagainya yang dibutuhkan untuk mendukung ketercapaian sasaran.

psikologi

BAB V KEPERCAYAAN DIRI DAN STRATEGI PENINGKATANNYA

Kepercayaan diri adalah keyakinan atau kesadaran akan kemampuan diri untuk melaksanakan suatu tugas dengan baik. Dalam olahraga, kepercayaan diri merupakan salah satu faktor penentu suksesnya seorang atlet. Kepercayaan diri memperkuat motivasi mencapai prestasi karena semakin tinggi kepercayaan akan kemampuan diri semakin kuat pula semangat untuk berusaha mencapai prestasi.
Dalam rangka mengadakan pendekatan dan dalam upaya meningkatkan motivasi, motif berprestasi, harga diri, disiplin serta penguasaan diri, pelatih atau psikolog olahraga perlu menanamkan rasa percaya diri dimana kepercayaan diri ini juga merupakan modal utama setiap atlet untuk dapat mencapai prestasi setinggi-tingginya dengan menunjukkan perilaku sikap, citradiri dan konsep diri yang baik. Percaya diri itu merupakan rangkaian perilaku sikap seseorang atau kesiapan seseorang untuk beraktifitas yang keberadaannya setelah seseorang dalam rangka mencapai tujuannya, telah melalui pemenuhan kebutuhannya dengan baik sehingga otomatis muncul perilaku termotivasi.
Percaya diri bagi atlet sangat diperlukan untuk melawan pemenuhan kebutuhan yang munculnya tumpang tindih sehingga munculnya motivasi juga tumpang tindih. Akibatnya, otomatis perilaku bimbang ragu, konflik, cemas, jenuh, disstress serta depressi, juga frustrasi akan datang menghadang dan prestasi atlet terganggu. Percaya diri mempunyai 3 bentuk model dalam perilaku, yaitu over confidence (percaya diri berlebihan), lack of confidence (percaya diri cenderung turun) serta full confidence (rasa penuh percaya diri).
Over confidence atau percaya diri berlebihan tentu mempunyai segi negatif yang sering terjadi pada atlet, contoh perilakunya sering menganggap enteng lawan. Dengan kata lain, atlet tersebut mempunyai keyakinan yang terlalu berlebih mengenai kemampuan aslinya. Over confidence inipun tidak kalah berbahaya dari kekurangan rasa percaya diri. Akibat kepercayaannya yang tidak sesuai dengan kondisi nyata, atlet tersebut akan cenderung untuk mengurangi atau bahkan malas berlatih. Efeknya adalah penurunan performa pada saat kompetisi. Atlet dengan rasa percaya diri yang berlebihan ini biasanya tidak pernah membayangkan kekalahan, maka pada saat harus menerima kekalahan yang muncul adalah rasa frustasi yang berlebihan.
Lack of confidence atau perasaan kurang percaya diri tentu segi negatifnya adalah atlet meragukan kemampuannya sendiri. Atlet yang merasa tidak percaya diri merupakan akibat dari ke-tidakyakinan-nya pada kemampuan yang dia miliki. Atlet tersebut mempersepsi dirinya terlalu rendah sehingga kemampuan optimalnya tidak tertampilkan. Untuk kasus seperti ini, sebuah kesalahan kecil akan menimbulkan malapetaka, karena akan mengukuhkan persepsi tentang ketidakmampuannya.
Sedangkan full confidence atau rasa percaya diri yang penuh, tidak ada faktor sisi negatifnya karena atlet cenderung bersikap menerima, konsisten dan seimbang serta percaya diri ter-atribusi dengan baik. Percaya diri tipe yang ketiga inilah yang seharusnya selalu dipunyai oleh para atlet.

Oleh karena itulah, seorang atlet harus tetap menjaga rasa percaya dirinya (self confidence) pada titik yang optimal. Mereka harus memandang secara rasional kemampuannya. Seorang atlet yang mempunyai rasa percaya diri optimal biasanya mampu menangani situasi yang sulit dengan baik. Mereka akan mengembangkan sikap yang rasional, mau bekerja keras, melakukan persiapan yang memadai dan juga mempunyai banyak alternatif untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Ada banyak aspek yang dapat meningkatkan rasa percaya diri seorang atlet. Beberapa diantaranya adalah:
1. Keberhasilan atau prestasi yang diraih sebelumnya.
2. Penguasaan teknik dan skill yang diperlukan. Termasuk juga kondisi fisik dan mental.
3. Konsep diri, gambaran dan keyakinan mengenai siapa diri kita.
4. Realistis terhadap kemampuan yang dimiliki dengan melihat tugas yang harus dihadapi.
Peran pelatih dalam menumbuhkan rasa percaya diri atletnya sangat besar. Beberapa hal yang bisa dilakukan pelatih untuk membantu meningkatkan kepercayaan diri atletnya, antara lain:
1. Menetapkan sasaran (goal setting) yang realistis. Sasaran yang realistis akan membuat rasa percaya diri pemain meningkat, karena ada persepsi bahwa mereka bisa menyelesaikan tugas dengan sempurna.
2. Menjadikan diri sebagai model atau panutan dengan kepercayaan diri optimal.
3. Mengajak pemain untuk mempraktekkan self talking, yaitu aktivitas untuk mengenali dirinya lebih jauh lagi. Dengan self talking, seseorang diajak untuk lebih realistis dalam melihat kelebihan dan kekurangan. Dengan demikian, pemain akan tetap sadar dengan kemampuan terbaiknya, sebaliknya seandainya masih ada kekurangan, pemain bisa meningkatkannya.
4. Bersikap positif dalam menghadapi atlet/pemain, dengan cara:
a. Memberitahu pemain dimana letak kekuatan dan kelemahannya masing-masing.
b. Memberikan kritik membangun dalam melakukan penilaian terhadap atlet (kritik negatif bahkan akan mengurangi rasa percaya diri).
c. Jika pemain telah bekerja keras dan bermain bagus (walaupun kalah), tunjukkan penghargaan berupa pujian. Pujian mengandung penguat positif yang mempunyai kecenderungan menguatkan perilaku. Dengan memberi pujian pada pemain yang telah bekerja keras, maka akan memberikan persepsi yang positif bagi atlet.
d. Jika pemain mengalami kekalahan (apalagi tidak dengan bermain baik), hadapkan ia pada kenyataan obyektif. Artinya, beritahukan mana yang telah dilakukannya secara benar dan mana yang salah, serta tunjukkan bagaimana seharusnya. Menemui pemain yang baru saja mengalami kekalahan harus dilakukan sesegera mungkin dibandingkan dengan menemui pemain yang baru saja mencetak kemenangan.

Tindak lanjut yang cepat dan tepat merupakan hal yang penting dalam penanganan masalah kepercayaan diri pada atlet. Bila dibiarkan, hal ini dapat menular kepada atlet lain (terutama dalam cabang olahraga yang berupa tim) atau bahkan dapat menjadi akar masalah bagi masalah-masalah psikologis yang lain. Sebagai contoh, rendahnya kepercayaan diri atlet akan dapat menyebabkan kecemasan berlebihan.
Dengan tingkat kecemasan yang melebihi ambang batas, respons tubuh yang muncul relatif merugikan untuk sebuah penampilan. Tubuh yang gemetar membuat gerakan-gerakan menjadi terbatas, belum lagi dengan kekakuan otot yang mengiringi atlet yang cemas. Hasilnya, penampilan tidak akan maksimal. Pukulan tidak akurat atau gerakan yang tidak terkontrol akan muncul tanpa sadar. Oleh karena itu sangat penting untuk dapat mengenali dan menindaklanjuti masalah kepercayaan diri secara dini sehingga selain memutus rantai penularan kepada atlet lain, masalah kepercayaan diri tersebut juga tidak berlanjut menjadi masalah – masalah psikologis yang lain

guru olahraga

MEMAHAMI PERKEMBANGAN INDIVIDU OLAHRAGAWAN

Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan manusia merupakan proses perubahan di dalam tubuh, yang dimulai sejak masa konsepsi sampai dewasa. Selama pertumbuhan, semua sel di dalam tubuh bertambah banyak dan juga bertambah besar ukurannya. Hal ini bisa terlihat dari bertambahnya ukuran panjang tubuh atau tinggi badan dan bertambahnya berat badan. Berbarengan dengan proses pertumbuhan, juga terjadi proses pematangan fungsi organ-organ tubuh yang semakin kompleks sesuai dengan tingkat ”kematangan” usia seseorang. Proses tumbuh dan matang ini umumnya disebut dengan proses perkembangan manusia. Konsep perkembangan sangat berkaitan dengan olahraga.
Beberapa cabang olahraga dipengaruhi oleh struktur anatomis olahragawannya, misalnya bola basket dan bola voli memerlukan tubuh yang tinggi; loncat indah, berkuda, senam, memerlukan ukuran tubuh yang lebih kecil namun kuat; sedangkan menembak dan catur relatif tidak terpengaruh dengan ukuran tubuh. Namun struktur tubuh ideal semata tidaklah menjadi jaminan bahwa olahragawan akan berhasil dalam cabang olahraganya, karena bakat dan perkembangan pribadinya juga turut berperan.
Bakat yang ada pada manusia yang dibawa sejak lahir, memerlukan latihan pada masa yang tepat agar bakatnya dapat berkembang optimal. Masa-masa ini harus diketahui karena satu cabang berbeda dengan cabang lainnya. Misalnya, untuk menjadi pesenam yang terampil perlu dilakukan sejak usia dini, pada saat kelentukan tubuh masih sangat baik dan dapat ditingkatkan. Interaksi antara bakat olahraga dan lingkungan sangat menentukan dalam perkembangan prestasinya. Bakat olahraga yang besar tanpa mendapatkan latihan yang baik dan jika tidak didukung oleh lingkunganpnya maka bakat tersebut tidak akan berkembang menjadi prestasi yang tinggi. Demikian pula, jika seseorang tidak memiliki cukup bakat untuk melakukan suatu cabang olahraga, walaupun ia dilatih oleh seorang pelatih profesional dan dilenngkapi dengan peralatan yang canggih, maka prestasinya pun tidak akan spektakular. Oleh karena itu, bakat olahraga perlu ditemukan, kemudian dilatih dengan baik menggunakan Iptek olahraga dan didukung dengan peralatan dan kebutuhan penunjang lainnya.

Tahapan Dan Ciri-Ciri Perkembangan
Perkembangan berkaitan dengan pematangan fungsi organ manusia, meliputi: perkembangan fisik biologis, gerak motorik, kognitif dan sosial emosional. Perkembangan fisik biologis anak yang paling jelas terlihat adalah pada rentang usia 1 bulan sampai dengan 6 tahun, mulai anak baru bisa menguasai otot bola mata, kemudian meraih, duduk, berdiri, berjalan, melompat, berbicara, dan seterusnya. Pada masa usia ini, bagi mereka segala sesuatu adalah baru. Mereka menjelajahi dunia sekitarnya melalui indera dan gerakan fisik. Penglihatan, pendengaran, dan perabaannya mulai berkembang dan akan terus berlanjut sampai dengan sekitar usia 12 tahun.
Sebelum usia tersebut, anak belum mampu mengintegrasikan keseluruhan panca inderanya untuk memahami dan bereaksi terhadap dunia sekitarnya. Oleh sebab itu, apa yang dikatakan atau ditunjukkan oleh pelatih belum tentu dapat ditangkap dengan tepat oleh anak. Daya tangkap anak masih belum matang, maka cara mereka bereaksi juga belum matang. Pelatih perlu ekstra sabar dan kreatif dalam menggunakan berbagai pendekatan saat melatih anak usia dini ini. Pelatihan keterampilan motorik perlu diiringi dengan instruksi verbal.
Keterampilan motorik dipelajari secara progresif, melalui tahap-tahap tertentu. Seorang anak belajar duduk, kemudian berdiri sebelum berjalan; jalan sebelum berlari; lari sebelum lompat dan mendarat; kemudian gerakan-gerakan lain seperti berputar, membungkuk, mendorong, menarik. Anak lambat laun mulai dapat menguasai gerak tubuhnya. Keterampilan verbal dan penalarannya juga terus berkembang sehingga anak mulai dapat menikmati permainan dan bermain peran. Keterampilan yang lebih kompleks melibatkan integrasi dan koordinasi antara pikiran dan gerakan tubuh, seperti melempar, menangkap, menendang, meninju, menepuk, dan menghindar atau mengelak. Keterampilan-keterampilan tersebut pun ada tahapannya. Misal dalam menangkap bola, masih sebatas satu arah pandangnya belum mampu menerima dari berbagai arah. Permainan-permainan yang mendorong anak untuk mengembangkan koordinasi gerak, akan meningkatkan koordinasi anak secara optimal.
Anak menyenangi permainan yang sifatnya berlarian dan menggembirakan; karena itu dalam melatih olahraga pada anak usia dini perlu dikombinasikan dengan permainan. Dalam menerapkan permainan olahraga, Pelatih dapat memberikan peran atau posisi anak sesuai kemampuannya, karena perbedaan kecepatan pertumbuhan fisik dan perkembangan gerak antara anak yang satu dengan yang lain dapat berbeda, sehingga Pelatih perlu memperlakukan mereka sesuai dengan tingkat perkembangan individunya.
Pada usia 8 – 12 tahun, anak telah semakin berkembang kemampuan penginderaan dan keterampilan motoriknya, sehingga anak lebih mampu melakukan gerakan yang lebih kompleks dan halus. Hal ini juga karena kesadaran anak akan posisi tubuh dan kemampuannya untuk merasakan gerakan yang dilakukannya. Mereka sudah lebih dapat memahami instruksi verbal dan melakukan gerakan sesuai yang diinstruksikan. Gerakan anak sudah semakin matang dan terampil, misalnya melempar bola diiringi dengan gerakan kaki, menendang bola diikuti dengan gerak ayunan tangan dan memutar punggung, dan sebagainya.
Saat anak mencapai usia 12-16 tahun, anak telah siap dikembangkan keterampilan geraknya. Selain gerakan menjadi lebih halus, anak juga mulai berkembang kekuatan ototnya. Anak sudah dapat dilatih dengan keras untuk mencapai prestasi puncak sebagai olahragawan sesuai kelompok usianya. Di usia ini, anak harus memiliki motivasi dan minat sendiri untuk melakukan cabang olahraganya, tidak seperti sebelumnya, yang biasanya anak melakukan olahraga karena keinginan atau pilihan orangtuanya. Pengaruh lingkungan sosial dimana anak berlatih akan sangat berperan dalam keputusan anak untuk terus berlatih pada cabang olahraganya. Oleh karena itu, pelatih harus selalu dapat menciptakan suasana latihan yang menyenangkan dan membuat olahragawannya merasa termotivasi untuk berlatih.
Selain perkembangan individu seperti dikemukakan di atas, berikut juga akan dipaparkan tahapan karir (career stages) yang umumnya dilalui oleh seorang olahragawan. Tahapan karir olahragawan diartikan sebagai periode di mana seseorang merintis karir sebagai olahragawan mulai ia mengenal cabang olahraga hingga yang bersangkutan mencapai akhir prestasinya.
Secara umum terdapat empat fase perkembangan karir olahragawan. Setiap tahapan memiliki karakteristik tersendiri tetapi saling berkaitan satu sama lain.
1. Fase Pengenalan adalah suatu periode di mana olahragawan melakukan berbagai kegiatan olahraga, permainan dan kegiatan fisik lainnya dengan tujuan utama memperoleh kesenangan dan pemenuhan kebutuhan sosial. Dari segi perkembangan gerak, tahap ini mengarah pada pengembangan keterampilan gerak dasar (fundamental movement skill) seperti berlari, melompat, memukul bola, menangkap bola dan sebagainya. Bulutangkis bukan satu-satunya cabang olahraga yang dilakukan anak, melainkan juga olahraga yang lain seperti renang, sepakbola, bolavoli, bolabasket dan sebagainya. Meskipun pada tahap ini anak melakukan olahraga dengan dasar kesenangan dan tidak terstruktur, tetapi keberhasilan tahap ini akan mempengaruhi keberhasilan tahap selanjutnya. Mengingat melalui tahap ini, secara tidak langsung anak sudah mulai berlatih kekuatan, kelincahan, kecepatan dan koordinasi yang merupakan modal dasar untuk masuk tahap spesialisasi. Pada tahap ini, peran orang tua begitu besar, terutama dalam menciptakan “budaya” olahraga di lingkungan keluarga. Dengan lingkungan keluarga yang menunjang, anak merasa terdorong dan merasa senang untuk melakukan aktivitas olahraga. Selain itu lingkungan permainan anak juga ikut mendorong terciptanya kebiasaan berolahraga.
2. Fase Spesialisasi adalah suatu periode di mana olahragawan mulai memfokuskan usahanya untuk berlatih pada jenis olahraga yang disukai. Salah satu ciri utama tahap ini adalah anak mulai memasuki klub. Dengan masuk klub, latihan sudah lebih terstruktur dan teratur. Misalnya latihan dimulai dengan warming up, stretching dan diakhiri dengan cooling down. Selain itu pada tahap ini anak mulai berlatih keterampilan dasar bermain sesuai cabang olahraga yang dipilih. Teknik dan taktik bermain juga mulai dikenalkan.
3. Fase Investasi adalah suatu periode di mana olahragawan umumnya mencurahkan diri pada olahraga tertentu yang memungkinkan ia mampu menjadi juara. Ia harus mengorbankan beberapa kegiatan dan kepentingan pribadi lainnya untuk kemudian berkonsentrasi pada latihan dan kompetisi.
4. Fase Prestasi adalah suatu periode di mana olahragawan telah mencapai prestasi puncak dalam olahraga, misalnya ia telah mendapat medali emas pada Olimpiade atau kejuaraan dunia. Pada tahap ini, olahragawan masih tetap berlatih dan berkompetisi, tidak hanya untuk mempertahankan prestasi melainkan juga memperbaikinya. Memperbaiki dimaksudkan bahwa pada tahap ini seorang atlet masih dimungkinkan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan bermain bulutangkisnya untuk mencapai kesempurnaan. Karena itu pada tahap ini seorang atlet akan dapat mencapai prestasi puncak, yaitu prestasi tertinggi yang dapat diraih atlet sepanjang karirnya sebagai atlet. Sedangkan mempertahankan mengandung pengertian sampai sejauhmana seorang atlet konsisten atas prestasi Internasionalnya hingga akhir karirnya sebagai atlet.